Seputar kerajaan Majapahit

Situasi Ibukota Majapahit (pertama)

Majapahit Prana. Berbicara tentang situasi kota Majapahit, adalah merupakan suatu hal yang menarik, namun membutuhkan suatu pengetahuan yang mendalam tentang kerajaan Majapahit itu sendiri. Pengetahuan mana tidak hanya melulu dari sisi pembacaan teks (prasasti ataupun kakawin), melainkan juga membutuhkan tinjauan lapangan (situs-situs peninggalan yang tersisa) secara langsung. Satu hal yang tidak dapat dilupakan adalah, perlunya pengetahuan tentang situasi kebatinan masyarakat Majapahit kala itu.

Demikianlah raden wijaya berangkat ke Tarik bersama para pengikutnya pada hari Mertamasa. TUJUH HARI KEMUDIAN, IA SAMPAI DI TEMPAT YANG DITUJU. Untuk sementara waktu ia tinggal di pesanggrahan. Bangunanya dibuat dari bambu. Pagarnyapun dari bambu. Pesanggrahan itu dikelilingi kolam. Panji Wijayakrama memberikan uraian yang sangat jelas tentang keadaan dan letak Majapahit. Demikianlah uraiannya. Kota yang sedang dibangun itu menghadap ke sungai besar yang mengalir dari sebelah barat dan bertemu dengan kali yang mengalir dari sebelah selatan. Sudah pasti yang dimaksud dengan kali agung ialah sungaiBbrantas yang mengalir dari Kadiri menuju pantai laut [Datar]. Sungai kecil yang mengalir dari selatan ialah Kali Mas pada jaman itu disebut Kali Kancana. Tidak ada hentinya perahu dagang hilir mudik datang pergi dikemudikan oleh orang Madura. Orang orang Madura mengalir tak putus putusnya ke Majapahit. Mereka menetap di bagian kota sebelah utara bernama Wirasabha. Di sebelah tenggara kota adalah jembatan. Daerah yang sudah dibuka sebagian berupa sawah yang telah ditanami. Tanamannya telah agak tinggi, daunnya masih muda. kebun kebun ditanami segala macam bunga, pucang, pinang, kelapa, dan pisang. Telah tersedia tahta dari batu putih semata mata untuk tempat duduk Raden Wijaya. Tempat tahta batu putih itu disebut Wijil Pindho, pintu kedua.............

Tatanan ibu-kota Majapahit  menunjukkan bahwa masyarakat Majapahit pada saat itu telah berpikir modern, walaupun dengan tehnologi yang sederhana., namun hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan selalu dicarikan konsep penyelesaian secara praktis-mekanis. Tradisi pembuatan candi dengan bahan batu andesit yang diwarisi dari kerajaan Singosari, telah diubah sedemikian rupa dengan berbahan dasar batu-bata-merah yang pembuatan serta pencariannya lebih mudah dan praktis. Ukiran realis dengan pahatan yang dalam dan halus telah diperbaiki dengan sistem ekspresionis hampir datar. Manusia Majapahit pada saat itu berusaha untuk selalu berpikir kritis mencari kemudahan untuk hidup dan selalu berusaha untuk tidak mengesampingkan tradisi dari para leluhurnya pula. Sebuah kebijaksanaan hidup yang perlu ditiru generasi saat ini.

Majapahit Prana
Majapahit Prana

Seluruh temuan yang ada saat ini dapat dihubungkan menjadi satu kesatuan tatanan kota yang cukup mapan. Bahkan Museum Trowulan sekarang yang berada di dekat situs segaran  berdiri di atas situs yang bernama Lapangan Bubat. Beberapa benda temuan kerajaan seperti patung, perhiasan, gerabah, umpak, bagian-bagian candi dan lain-lain telah dipamerkan walau tidak disebutkan di daerah mana benda purbakala tersebut ditemukan. Namun demikian tetap dapat dipahami bahwa Ibukota majapahit adalah wilayah yang sudah tertata rapi.

Kanal-kanal yang saling berhubungan memiliki dimensi selebar 12 meter sampai 30 meter dengan kedalaman sekitar 4 meter. Penelitian yang dilakukan telah menunjukkan bahwa kanal ini dibatasi oleh pasangan batu bata yang cukup tebal. Posisi kanal sesuai dengan arah kemiringan situs Kolam Segaran yang berupa kolam besar dengan panjang 375 meter dan lebar 175 meter.

Dekat dengan kolam ini terdapat kolam alami lain yang berbentuk memanjang dan disebut balong dowo, serta kolam lingkaran yang disebut balong bunder. Penemuan berupa saluran air tertutup yang dihubungkan pipa terakota dapat menjelaskan bahwa sistem pengairan pada saat itu telah dibentuk dengan baik, bahkan dapat dikatakan bahwa ibukota Kerajaan Majapahit pada masa lampau adalah kota air. Sistem transporatasi air telah terbentuk yang berhubungan dengan Sungai Brantas, masyarakat mendapat aliran air bening yang disalurkan secara terorganisir, taman-taman tirta yang indah juga terdapat pada beberapa tempat.

Jaringan jalan Ibukota Majapahit yang dikelilingi kanal besar juga berpola grid. Pemukiman tertata dengan rapi dikelilingi pagar bata dengan halaman berbentuk segi empat. Pepohonan diatur berderet dengan jenis sama secara berkelompok. Terdapat ruang-ruang luar yang difungsikan sebagai taman lapangan terbuka yang diteduhi pohon rindang, taman sari geometris dan taman yang ditengahnya terdapat balai besar. Bangunan umum berupa balai dan gazebo dibuat terbuka tanpa dinding, sedang rumah tinggal berdinding rapat dari bahan kayu atau bambu. Bahan atap dari permukiman Majapahit adalah genteng, di mana pada beberapa bagiannya diberi hiasan berukir. Atap lebih banyak yang berbentuk limasan/perisai dan sebagian lagi berbentuk kampung/pelana.

Pada tahun 1981 keberadaan kanal-kanal dan waduk-waduk di situs Trowulan (peninggalan Majapahit) semakin pasti diketahui melalui studi foto udara yang ditunjang oleh pengamatan di lapangan dengan pendugaan geoelektrik dan geomagnetik. Hasil penelitian kerja sama Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) dengan Ditlinbinjarah, UGM, ITB, dan Lapan itu diketahui bahwa Situs Trowulan berada di ujung kipas aluvial vulkanik yang sangat luas, memiliki permukaan tanah yang landai dan baik sekali bagi tata guna tanah (Karina Arifin, 1983). Waduk-waduk Baureno, Kumitir, Domas, Kraton, Kedungwulan, Temon, dan kolam-kolam buatan seperti Segaran, Balong Dowo, dan Balong Bunder, yang semuanya terdapat di Situs Trowulan, letaknya dekat dengan pangkal kipas aluvial Jatirejo.

Melalui pengamatan foto udara inframerah, ternyata di Situs Trowulan dan sekitarnya terlihat adanya jalur-jalur yang berpotongan tegak lurus dengan orientasi utara-selatan dan timur-barat. Jalur-jalur yang membujur timur-barat terdiri atas 8 jalur, sedangkan jalur-jalur yang melintang utara-selatan terdiri atas 6 jalur. Selain jalur-jalur yang bersilangan tegak lurus, ditemukan pula dua jalur yang agak menyerong.

"Berdasarkan uji lapangan pada jalur-jalur dari foto udara, ternyata jalur-jalur tersebut adalah kanal-kanal, sebagian masih ditemukan tembok penguat tepi kanal dari susunan bata," ujar Karina Arifin.

Lebar kanal-kanal berkisar 35-45 meter. Kanal yang terpendek panjangnya 146 meter, yaitu jalur yang melintang utara-selatan yang terletak di daerah Pesantren, sedangkan kanal yang terpanjang adalah kanal yang berhulu di sebelah timur di daerah Candi Tikus dan berakhir di Kali Gunting (di Dukuh Pandean) di daerah baratnya. Kanal ini panjangnya sekitar 5 kilometer.

Hal yang menarik, sebagian besar situs-situs di Trowulan dikelilingi oleh kanal-kanal yang saling berpotongan, membentuk sebuah denah segi empat yang luas, dibagi lagi oleh beberapa bidang segi empat yang lebih kecil.

Lanjutkan ke bagian berikutnya.

Tag : tata-letak
1 Komentar untuk "Situasi Ibukota Majapahit (pertama)"

Artikel ini menarik untuk disimak, mantap gan

Silahkan berkomentar, jaga tata krama dan kesusilaan, jangan menuliskan link hidup pada kotak komentar. Maaf bilamana terjadi keterlambatan balasan komentar anda

Back To Top