NAWA BRATA WISESA UTTAMOPADESA

serat nawa brata wisesa

Kajian Kepemimpinan dan Pembentukan Watak dalam Kawruh Uttamopadesa

Pendahuluan.
Kepemimpinan sering dipahami sebagai persoalan kedudukan. Seseorang disebut pemimpin karena memiliki jabatan, kewenangan, pengikut, atau kemampuan menentukan keputusan. Namun, dalam pandangan Uttamopadesa, ukuran kepemimpinan tidak terutama terletak pada kedudukan lahiriah. Kepemimpinan berhubungan dengan kemampuan manusia dalam menata dirinya sehingga mampu membawa pengaruh yang baik bagi kehidupan di sekitarnya.

Seseorang dapat memiliki kewenangan yang besar tetapi belum tentu mampu menjadi pemimpin yang luhur. Sebaliknya, seseorang yang tidak memiliki jabatan resmi dapat menunjukkan kepemimpinan melalui keteladanan, kejujuran, tanggung jawab, dan kemampuannya menjaga kehidupan bersama.

Atas dasar pemahaman tersebut, Nawa Brata Wisesa dapat ditempatkan sebagai salah satu ajaran penting dalam kerangka pembentukan manusia menurut kawruh Uttamopadesa. Sembilan brata di dalamnya bukan sekadar daftar sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin, melainkan gambaran mengenai kualitas batin yang perlu dibangun sebelum seseorang mampu memikul tanggung jawab terhadap orang lain.

Kepemimpinan dengan demikian dimulai dari dalam diri. Cipta harus mampu melihat dengan jernih, rasa perlu memiliki kepekaan, sedangkan karsa harus berada dalam tata yang benar. Ketiganya menjadi dasar bagi lahirnya tindakan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Kepemimpinan sebagai Laku Pembentukan Diri.
Dalam Uttamopadesa, manusia tidak hanya dipandang sebagai makhluk yang menjalani kehidupan, tetapi juga sebagai pribadi yang terus membentuk dirinya melalui pilihan dan tindakan.

Apa yang dipikirkan akan memengaruhi sikap. Apa yang dirasakan dapat memengaruhi keputusan. Apa yang dikehendaki akan menentukan arah tindakan. Karena itu, kepemimpinan tidak dapat dipisahkan dari proses menata cipta, rasa, dan karsa.

Pemimpin yang cipta-nya tidak tertata akan mudah salah melihat keadaan. Pemimpin yang rasa-nya tidak wening dapat bertindak berdasarkan kebencian, kesukaan, atau kepentingan pribadi. Sementara itu, karsa yang tidak terkendali dapat berubah menjadi ambisi untuk menguasai.

Nawa Brata Wisesa memberikan kerangka agar ketiga daya tersebut dapat diarahkan menuju kepemimpinan yang lebih matang.

Sembilan Brata sebagai Satu Kesatuan.
Kesembilan prinsip Nawa Brata Wisesa sebaiknya tidak dibaca sebagai sembilan tuntutan yang berdiri sendiri. Masing-masing menunjukkan sisi berbeda dari satu kualitas kepemimpinan.

Suryaning Adilaya menempatkan keadilan sebagai dasar. Seorang pemimpin perlu mampu memberikan perlakuan yang tidak dikendalikan oleh kedekatan, kepentingan pribadi, maupun keberpihakan yang tidak semestinya. Keadilan menjadi titik awal karena kepemimpinan kehilangan maknanya ketika kewenangan digunakan untuk kepentingan diri sendiri.

Dari keadilan kemudian diperlukan Candraning Wening Cita, yaitu kemampuan menjaga kejernihan pikiran. Pemimpin tidak cukup memiliki niat baik. Ia harus mampu melihat persoalan tanpa dikuasai amarah, ketakutan, prasangka, atau dorongan sesaat. Kejernihan membuat keputusan tidak lahir secara tergesa-gesa.

Kejernihan kemudian perlu memiliki arah. Di sinilah Kartikaning Panuntun memperoleh maknanya. Pemimpin harus mampu menunjukkan tujuan dan memberikan orientasi. Ia tidak sekadar menyuruh orang berjalan, tetapi memahami ke mana perjalanan harus diarahkan.

Arah yang baik membutuhkan komunikasi yang dapat dipercaya. Pertiwing Sabda Lestari mengingatkan bahwa perkataan merupakan bagian penting dari kepemimpinan. Pemimpin harus mampu menjaga ucapan karena kepercayaan masyarakat dapat tumbuh atau runtuh melalui kata-kata yang disampaikannya. Perkataan yang baik bukan perkataan yang indah semata, tetapi perkataan yang memiliki tanggung jawab untuk diwujudkan.

Selanjutnya terdapat Segaraning Wicaksana, yang menunjukkan perlunya keluasan dalam menimbang persoalan. Pemimpin tidak mungkin selalu menghadapi keadaan yang sederhana. Perbedaan pandangan, kebutuhan, dan kepentingan menuntut kemampuan untuk melihat persoalan dari berbagai sisi. Kebijaksanaan lahir ketika seseorang tidak terburu-buru menilai hanya berdasarkan sudut pandangnya sendiri.

Keluasan pertimbangan harus disertai kepekaan terhadap perubahan. Bayuning Tanggap menggambarkan kemampuan membaca keadaan dan menyesuaikan langkah. Kehidupan selalu bergerak. Karena itu, pemimpin tidak boleh mempertahankan cara lama hanya karena pernah berhasil. Namun, kemampuan menyesuaikan diri juga tidak berarti kehilangan prinsip. Cara dapat berubah, sedangkan nilai dasar tetap dijaga.

Dalam keadaan tertentu, kepekaan saja belum cukup. Diperlukan Agning Satya Wira, yaitu keberanian untuk tetap menjalankan hal yang benar ketika menghadapi tekanan. Kepemimpinan akan diuji ketika keputusan yang benar tidak memberikan keuntungan bagi diri sendiri. Pada saat itulah keberanian moral menunjukkan kualitas sebenarnya.

Keberanian tersebut harus ditopang oleh Akasing Wawasan Jembar. Pemimpin perlu melihat kehidupan melampaui kepentingan sesaat. Keputusan hari ini dapat membawa akibat bagi kehidupan di masa mendatang. Karena itu, kepemimpinan membutuhkan pandangan yang mempertimbangkan kesinambungan, bukan hanya keberhasilan sementara.

Seluruh proses tersebut bermuara pada Darmaning Rasa Satya. Prinsip terakhir ini menegaskan perlunya keselarasan antara apa yang dirasakan, dipikirkan, dikatakan, dan dilakukan. Seorang pemimpin tidak cukup tampak baik di hadapan orang lain. Nilai kepemimpinannya terlihat dari kesatuan antara batin dan laku.

Dari Kualitas Batin Menuju Kepemimpinan.
Jika diperhatikan secara keseluruhan, Nawa Brata Wisesa sebenarnya berbicara mengenai perubahan dari dalam menuju keluar.

Keadilan membutuhkan pengendalian kepentingan diri. Kejernihan membutuhkan kemampuan mengendalikan gejolak cipta. Kebijaksanaan membutuhkan keluasan rasa dan pandangan. Keberanian membutuhkan keteguhan karsa. Integritas membutuhkan kesatuan seluruhnya.

Dengan demikian, kepemimpinan bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba ketika seseorang mendapatkan jabatan.
Kepemimpinan merupakan hasil dari kebiasaan dan pembentukan watak yang berlangsung terus-menerus.

Seseorang yang tidak mampu mengendalikan dirinya ketika tidak memiliki kewenangan akan semakin sulit mengendalikan diri ketika memiliki kekuasaan. Sebaliknya, orang yang terbiasa menata dirinya akan lebih siap ketika memperoleh tanggung jawab yang lebih besar.

Nawa Brata Wisesa dan Kawruh Sejati.
Hubungan Nawa Brata Wisesa dengan Kawruh Sejati dapat dipahami melalui perbedaan antara penerangan dan penerapan.

Kawruh Sejati memberikan pemahaman mengenai kehidupan dan dasar keberadaan. Pengetahuan tersebut menjadi penerangan agar manusia tidak berjalan hanya berdasarkan dorongan sesaat. Namun, penerangan tidak akan banyak berarti apabila tidak mengubah cara seseorang menjalani kehidupan.

Nawa Brata Wisesa menunjukkan salah satu wilayah tempat penerangan tersebut diwujudkan. Nilai tentang kebenaran, keseimbangan, tanggung jawab, dan kebermanfaatan diterjemahkan menjadi perilaku seorang pemimpin.

Dengan demikian, seorang pemimpin tidak cukup mengatakan bahwa dirinya memahami nilai kehidupan. Ia perlu menunjukkan pemahaman itu melalui cara mengambil keputusan, memperlakukan orang lain, menggunakan kewenangan, dan menghadapi keadaan sulit.

Nawa Brata Wisesa dan Kawruh Kasunyatan.
Kawruh Kasunyatan berhubungan dengan usaha manusia mengenali kenyataan melalui pengamatan, penghayatan, dan pembentukan diri. Dalam konteks ini, Nawa Brata Wisesa menjadi ruang pengujian yang nyata.

Seseorang mungkin merasa dirinya adil sampai kepentingan pribadinya berhadapan dengan kepentingan orang lain. Seseorang mungkin merasa dirinya bijaksana sampai harus mengambil keputusan yang sulit. Seseorang mungkin menganggap dirinya berani sampai menghadapi tekanan yang dapat merugikan dirinya sendiri.

Kehidupanlah yang akhirnya menguji kualitas tersebut.

Karena itu, Nawa Brata Wisesa tidak cukup dipelajari sebagai pengetahuan mengenai kepemimpinan. Kesembilan prinsipnya perlu dijadikan bahan mawas diri. Dari sana seseorang dapat melihat bagian mana dalam dirinya yang sudah tertata dan bagian mana yang masih perlu diperbaiki.

Kepemimpinan Tidak Selalu Berbentuk Jabatan.
Pemahaman ini membuat Nawa Brata Wisesa tetap relevan bagi setiap manusia. Tidak semua orang menjadi pemimpin organisasi, tetapi setiap orang memiliki pengaruh terhadap kehidupan di sekitarnya.

Orang tua mempengaruhi pembentukan anak melalui keteladanan. Guru mempengaruhi murid melalui sikap dan pengetahuan.
Seseorang dalam lingkungan kerja dapat mempengaruhi rekan-rekannya melalui perilaku. Bahkan seseorang yang hanya memimpin dirinya sendiri sedang menjalankan bentuk kepemimpinan yang paling dasar.

Karena itu, ukuran kepemimpinan tidak harus dicari dari banyaknya orang yang berada di bawah perintah seseorang. Kepemimpinan dapat dilihat dari seberapa jauh kehadiran seseorang membawa keteraturan, kepercayaan, ketenteraman, dan manfaat.

Inti Filosofis Nawa Brata Wisesa.
Apabila diringkas, Nawa Brata Wisesa mengandung satu gagasan utama:

kepemimpinan yang keluar harus bersumber dari ketertataan yang ada di dalam diri.
Suryaning Adilaya mengajarkan dasar keadilan. Candraning Wening Cita menjaga kejernihan. Kartikaning Panuntun memberi arah. Pertiwing Sabda Lestari menjaga tanggung jawab perkataan. Segaraning Wicaksana memperluas pertimbangan. Bayuning Tanggap menumbuhkan kepekaan. Agning Satya Wira meneguhkan keberanian moral. Akasing Wawasan Jembar memperluas pandangan. Darmaning Rasa Satya menyatukan seluruhnya dalam integritas.

Kesembilan prinsip tersebut pada akhirnya kembali kepada manusia itu sendiri.
Pemimpin perlu bertanya kepada dirinya: Apakah keputusan yang diambil lahir dari kejernihan atau kepentingan pribadi? Apakah perkataannya sesuai dengan tindakannya? Apakah kewenangan digunakan untuk kepentingan bersama atau untuk memperbesar dirinya? Pertanyaan semacam itu menjadikan kepemimpinan sebagai laku mawas diri.

Penutup.
Nawa Brata Wisesa dalam kerangka Uttamopadesa bukan semata-mata ajaran mengenai bagaimana menjadi pemimpin yang baik. Lebih dalam daripada itu, Nawa Brata Wisesa merupakan jalan untuk memahami bahwa kepemimpinan berawal dari pembentukan manusia.

Seseorang perlu belajar berlaku adil sebelum dipercaya mengatur kepentingan orang banyak. Ia perlu menjernihkan cipta sebelum mengambil keputusan. Ia perlu menata rasa sebelum menilai orang lain. Ia perlu mengendalikan karsa sebelum menggunakan kewenangan.

Di sinilah Nawa Brata Wisesa memiliki hubungan erat dengan Kawruh Sejati dan Kawruh Kasunyatan. Kawruh Sejati memberikan penerangan, sedangkan Kawruh Kasunyatan menuntut manusia menguji dan mewujudkan pemahaman tersebut melalui laku.

Kepemimpinan yang luhur akhirnya bukan tentang menjadi lebih tinggi daripada orang lain. Kepemimpinan adalah kesanggupan memikul tanggung jawab dengan kesadaran bahwa setiap keputusan membawa akibat bagi kehidupan bersama.

Semakin besar kewenangan seseorang, semakin besar pula tuntutan untuk menata dirinya. Sebab, pemimpin yang mampu memimpin dirinya dengan jernih akan lebih mampu menggunakan kewenangannya dengan benar.

Dengan demikian, inti Nawa Brata Wisesa bukanlah mencari kekuasaan, melainkan membentuk manusia yang layak dipercaya ketika kekuasaan dan tanggung jawab berada di tangannya.

FAQ Nawa Brata Wisesa.
Apa yang dimaksud Nawa Brata Wisesa dalam Uttamopadesa?
Nawa Brata Wisesa merupakan ajaran mengenai sembilan prinsip kepemimpinan luhur yang ditempatkan dalam kerangka pembentukan watak dan laku manusia.

Apa inti dari Nawa Brata Wisesa?
Intinya adalah bahwa kepemimpinan yang baik harus berawal dari kemampuan menata diri, terutama cipta, rasa, dan karsa.

Apakah Nawa Brata Wisesa hanya ditujukan kepada pejabat atau pemimpin organisasi?
Tidak. Prinsipnya dapat diterapkan oleh setiap orang karena kepemimpinan dimulai dari kemampuan memimpin diri sendiri dan memberi pengaruh baik kepada lingkungan.

Mengapa kepemimpinan dikaitkan dengan cipta, rasa, dan karsa?
Karena ketiganya mempengaruhi cara manusia memahami keadaan, merasakan kehidupan, menentukan kehendak, dan melakukan tindakan. Kepemimpinan membutuhkan ketiganya dalam keadaan tertata.

Apa hubungan Nawa Brata Wisesa dengan Kawruh Sejati?
Kawruh Sejati menjadi penerangan mengenai kehidupan, sedangkan Nawa Brata Wisesa menunjukkan salah satu bentuk penerapan nilai tersebut dalam laku kepemimpinan.

Apa hubungan Nawa Brata Wisesa dengan Kawruh Kasunyatan?
Kawruh Kasunyatan menuntut manusia mengenali kenyataan melalui pengamatan, penghayatan, dan pembentukan diri. Nawa Brata Wisesa menjadi salah satu ruang untuk menguji pemahaman tersebut melalui tindakan nyata.

Mengapa Darmaning Rasa Satya menjadi puncak sembilan prinsip?
Karena kepemimpinan membutuhkan kesatuan antara apa yang dirasakan, dipikirkan, dikatakan, dan dilakukan. Tanpa keselarasan tersebut, prinsip kepemimpinan mudah berubah menjadi sekadar penampilan.

Apakah kepemimpinan selalu berkaitan dengan kekuasaan?
Tidak. Kepemimpinan lebih tepat dipahami sebagai tanggung jawab dan kemampuan memberi arah serta teladan. Kekuasaan hanyalah salah satu bentuk kewenangan, bukan ukuran keluhuran.

Bagaimana menerapkan Nawa Brata Wisesa dalam kehidupan sehari-hari?
Dengan melatih keadilan, menjaga ucapan, berpikir jernih, mau mendengar, peka terhadap keadaan, berani bertanggung jawab, mempertimbangkan akibat tindakan, dan menjaga keselarasan antara kata dan laku.

Apa ukuran pemimpin yang luhur menurut Nawa Brata Wisesa?
Ukuran utamanya bukan banyaknya orang yang tunduk, melainkan sejauh mana kepemimpinannya menghasilkan kehidupan yang lebih tertata, adil, tenteram, dan bermanfaat.


*Kawruh yang perlu juga dipahami :

majapahit uttamopadesa

Komentar