Jalan Mengenali Kenyataan yang Sejati
Kawruh Kasunyatan Jati merupakan salah satu konsep penting yang dapat ditempatkan dalam kerangka pemikiran Uttamopadesa. Istilah ini menunjuk pada pengetahuan dan penghayatan tentang kenyataan yang sejati, yaitu pemahaman yang tidak berhenti pada apa yang tampak, apa yang dipikirkan, atau apa yang diyakini manusia, melainkan berusaha mengenali kehidupan sebagaimana adanya menurut Tatananing Panguripan.
Secara sederhana, istilah ini terdiri atas tiga unsur. Kawruh berarti pengetahuan atau pemahaman yang diperoleh melalui proses mengenali, menghayati, dan menjalani. Kasunyatan berarti kenyataan yang benar-benar ada, bukan sekadar bayangan pikiran atau penilaian pribadi. Sementara jati menunjuk pada keadaan yang sesungguhnya, hakiki, dan tidak dikaburkan oleh pandangan yang keliru.
Dengan demikian, Kawruh Kasunyatan Jati bukan sekadar pengetahuan tentang kebenaran. Ia merupakan proses membawa manusia dari pandangan pribadi menuju pengenalan terhadap kenyataan yang sejati.
Kawruh Kasunyatan Jati Bukan Sekadar Pengetahuan.
Dalam kerangka Uttamopadesa, pengetahuan tidak cukup hanya disimpan dalam pikiran. Seseorang dapat mengetahui banyak hal tentang kehidupan, tetapi banyak mengetahui belum tentu berarti memahami kehidupan.
Manusia dapat mengetahui bahwa hidup harus dijalani dengan baik, bahwa sesama perlu dihormati, bahwa diri perlu dikendalikan, dan bahwa kehidupan perlu dijaga. Namun, apabila semua pengetahuan tersebut belum memengaruhi cipta, rasa, dan karsa, pengetahuan itu masih berada pada tingkat pemahaman intelektual.
Kawruh Kasunyatan Jati mulai tumbuh ketika pengetahuan masuk ke dalam kehidupan dan mengubah cara manusia melihat, merasakan, serta bertindak.
Karena itu, ukuran kawruh bukan semata-mata banyaknya hal yang diketahui.
Ukurannya adalah sejauh mana pengetahuan tersebut membuat manusia semakin mampu melihat kehidupan dengan jernih, memahami dirinya, serta menjalani kehidupan dengan benar dan selaras.
Pengetahuan yang tidak mengubah kehidupan mudah berubah menjadi kebanggaan. Sebaliknya, pengetahuan yang dihayati akan menjadi dasar perubahan diri.
Kasunyatan Tidak Selalu Sama dengan Pandangan Manusia.
Salah satu hal terpenting dalam Kawruh Kasunyatan Jati adalah membedakan antara kenyataan dan pandangan manusia tentang kenyataan.
Kenyataan adalah apa yang benar-benar ada menurut tatanannya. Sementara pandangan manusia merupakan cara seseorang memahami kenyataan tersebut. Keduanya tidak selalu sama.
Pandangan manusia dapat dipengaruhi pengalaman, keinginan, ketakutan, kebiasaan, pengetahuan sebelumnya, kepentingan pribadi, dan keadaan batin. Akibatnya, seseorang dapat mengira bahwa apa yang dipikirkannya adalah kenyataan, padahal sebenarnya hanya merupakan penafsiran terhadap kenyataan.
Di sinilah pentingnya resiking cipta, beninging rasa, lan jejeging karsa.
Cipta yang keruh membuat manusia melihat kehidupan melalui prasangka. Rasa yang tidak bening membuat seseorang mudah menilai berdasarkan kepentingan dan emosi pribadi. Karsa yang tidak teguh membuat seseorang mengetahui sesuatu yang baik tetapi tidak mampu menjalankannya.
Maka, untuk mengenali kasunyatan jati, manusia perlu membersihkan alat pengenalannya sendiri.
Makna “Jati” dalam Kawruh Kasunyatan Jati.
Kata jati memberikan kedalaman pada istilah ini. Yang dicari bukan sekadar kenyataan yang terlihat di permukaan, melainkan keadaan yang sesungguhnya.
Setidaknya terdapat tiga lapisan yang perlu dibedakan: apa yang tampak, apa yang dipikirkan tentang apa yang tampak, dan apa yang sesungguhnya ada.
Manusia sering berhenti pada lapisan pertama. Ketika mengalami keberhasilan, ia menyebutnya sebagai keberuntungan atau kemenangan. Ketika mengalami kegagalan, ia menganggap dirinya kalah. Ketika mengalami kesedihan, ia menganggap pengalaman tersebut semata-mata sebagai penderitaan.
Kawruh Kasunyatan Jati mengajak manusia melihat lebih dalam.
Keberhasilan dapat menjadi kesempatan untuk belajar bertanggung jawab dan rendah hati. Kegagalan dapat menjadi jalan untuk mengenali kelemahan dan memperbaiki diri. Kesedihan dapat membuka pengenalan terhadap keadaan batin. Perubahan dan kehilangan dapat memperlihatkan bahwa kehidupan tidak pernah berhenti bergerak.
Dengan demikian, jati tidak berarti sesuatu yang gaib, luar biasa, atau tersembunyi secara mistis. Jati menunjuk pada keadaan yang sesungguhnya, yang dapat dikenali apabila manusia tidak lagi membiarkan pandangan pribadinya menutupi kenyataan.
Pangrasa sebagai Jalan Penghayatan.
Kawruh Kasunyatan Jati juga membutuhkan pangrasa. Kehidupan memberikan banyak pengalaman yang dapat menjadi bahan pembelajaran, tetapi pengalaman itu sendiri belum otomatis menjadi kawruh.
Kesedihan dapat menjadi bahan untuk memahami diri. Kegagalan dapat menjadi bahan untuk melihat kelemahan.
Keberhasilan dapat menjadi bahan untuk belajar rendah hati. Pertemuan dan perpisahan dapat menjadi bahan untuk memahami perubahan kehidupan.
Namun, semuanya perlu diolah.
Pengalaman yang tidak dihayati hanya menjadi peristiwa yang berlalu. Pengalaman yang dihayati dengan cipta yang jernih dan rasa yang bening dapat menjadi sumber pemahaman.
Karena itu, Kawruh Kasunyatan Jati bukan pencarian pengalaman aneh atau luar biasa. Ia justru merupakan kemampuan membaca kehidupan sehari-hari dengan lebih jernih.
Kehidupan itu sendiri menjadi ruang pembelajaran. Setiap kejadian dapat menjadi bahan untuk mengenali diri, memahami sesama, dan melihat tatanan kehidupan secara lebih luas.
Kawruh Harus Menjadi Laku.
Dalam Uttamopadesa, hubungan antara kawruh dan laku merupakan bagian yang sangat penting. Kawruh tanpa laku hanya menjadi pengetahuan, sedangkan laku tanpa kawruh dapat kehilangan arah.
Karena itu, semakin seseorang mengenali kasunyatan jati, seharusnya semakin tampak pula perubahan dalam kehidupannya. Ia menjadi lebih andhap asor, karena menyadari bahwa dirinya bukan pusat dari seluruh kehidupan. Ia menumbuhkan sih, karena memahami bahwa kehidupan bukan hanya tentang kepentingan dirinya sendiri. Ia menjadi lebih wicaksana, karena tidak mudah menganggap pandangannya sendiri sebagai satu-satunya kebenaran.
Pada akhirnya, ia berusaha mencapai kaselarasan, yaitu keadaan ketika cara berpikir, merasakan, dan bertindak semakin sesuai dengan Tatananing Panguripan.
Dengan demikian, buah Kawruh Kasunyatan Jati bukanlah kebanggaan karena merasa telah mengetahui sesuatu yang lebih tinggi. Buahnya adalah perubahan kualitas diri.
Hubungan Kawruh Kasunyatan Jati dengan Kawruh Sejati.
Dalam bangunan pemikiran Uttamopadesa, Kawruh Sejati dan Kawruh Kasunyatan Jati dapat ditempatkan dalam hubungan yang saling melengkapi.
Kawruh Sejati merupakan pepadhang pengetahuan yang bersumber dari Prabhawaning Panguripan, sedangkan Kawruh Kasunyatan merupakan proses manusia mengenali dan mendekati kasunyatan melalui penyucian cipta, rasa, dan karsa.
Dalam pengertian tersebut, Kawruh Kasunyatan Jati dapat dipahami sebagai pemahaman manusia terhadap kenyataan yang sejati melalui proses pengenalan, penghayatan, dan penyelarasan diri dengan Tatananing Panguripan.
Secara sederhana dapat dirumuskan:
Kawruh Sejati memberikan pepadhang, sedangkan Kawruh Kasunyatan Jati merupakan proses manusia melihat kasunyatan dengan pepadhang tersebut.
Semakin jernih cipta, semakin bening rasa, dan semakin teguh karsa, semakin terbuka kemampuan manusia untuk mengenali kenyataan tanpa terlalu dikuasai oleh kepentingan dan pandangan pribadinya.
Tujuan Akhir Kawruh Kasunyatan Jati.
Tujuan Kawruh Kasunyatan Jati bukan menjadikan manusia merasa lebih tinggi daripada orang lain. Ia juga bukan jalan untuk memperoleh kekuasaan, pengalaman luar biasa, atau kebanggaan karena merasa telah mengetahui rahasia kehidupan.
Tujuannya adalah mengenali kehidupan dengan benar dan membenahi diri berdasarkan pengenalan tersebut.
Perjalanannya bukan:
mengetahui → merasa paling benar → berhenti.
Melainkan:
mengenali → membersihkan diri → menghayati → menjalani → menyelaraskan diri → semakin dekat kepada Sang Sumber Panguripan.
Semakin manusia mengenali kasunyatan, seharusnya semakin ia memahami keterbatasan dirinya. Semakin memahami kehidupan, seharusnya semakin ia mampu menghargai kehidupan. Dan semakin dekat kepada Sang Sumber Panguripan, seharusnya semakin baik pula laku hidupnya terhadap sesama dan seluruh kehidupan.
Rumusan Kawruh Kasunyatan Jati.
Berdasarkan uraian tersebut, Kawruh Kasunyatan Jati dapat dirumuskan sebagai berikut:
Kawruh Kasunyatan Jati adalah pengetahuan dan penghayatan tentang kenyataan yang sejati, yang diperoleh melalui kejernihan cipta, beningnya rasa, dan keteguhan karsa, kemudian diwujudkan dalam laku hidup yang selaras dengan Tatananing Panguripan, sehingga manusia semakin dekat kepada Sang Sumber Panguripan.
Rumusan tersebut menempatkan Kawruh Kasunyatan Jati bukan sekadar sebagai nama bagi “ilmu tentang kenyataan”, melainkan sebagai jalan pengenalan sekaligus jalan pembentukan diri.
Pada akhirnya, manusia tidak hanya dituntut untuk mengetahui apa yang benar, tetapi juga belajar melihat dengan benar, merasakan dengan benar, dan bertindak dengan benar.
Di situlah kawruh menemukan maknanya yang sesungguhnya: bukan ketika manusia merasa telah mengetahui kasunyatan, melainkan ketika pengenalan terhadap kasunyatan membuat hidupnya semakin jernih, selaras, dan bermanfaat.
FAQ Kawruh Kasunyatan Jati.
1. Apa yang dimaksud dengan Kawruh Kasunyatan Jati?
Kawruh Kasunyatan Jati adalah pengetahuan dan penghayatan tentang kenyataan yang sejati melalui kejernihan cipta, beningnya rasa, keteguhan karsa, serta laku hidup yang selaras dengan Tatananing Panguripan.
2. Apa perbedaan Kawruh Kasunyatan Jati dengan pengetahuan biasa?
Pengetahuan biasa dapat berhenti pada mengetahui sesuatu. Kawruh Kasunyatan Jati menuntut penghayatan dan perubahan diri. Pengetahuan tidak hanya dipahami, tetapi diwujudkan dalam laku.
3. Mengapa pandangan manusia belum tentu merupakan kasunyatan?
Karena pandangan manusia dapat dipengaruhi pengalaman, keinginan, ketakutan, kebiasaan, kepentingan, dan keadaan batin. Apa yang diyakini seseorang belum tentu sama dengan keadaan yang sesungguhnya.
4. Mengapa cipta, rasa, dan karsa perlu dijernihkan?
Karena ketiganya memengaruhi cara manusia mengenali kehidupan. Cipta yang keruh dapat melahirkan prasangka, rasa yang tidak bening dapat memengaruhi penilaian, sedangkan karsa yang tidak teguh membuat pemahaman sulit diwujudkan dalam tindakan.
5. Apakah Kawruh Kasunyatan Jati berkaitan dengan hal-hal gaib?
Tidak. Dalam kerangka Uttamopadesa, Kawruh Kasunyatan Jati terutama merupakan proses memahami kehidupan, mengenali diri, menjernihkan batin, dan menyelaraskan laku dengan Tatananing Panguripan.
6. Apa hubungan Kawruh Kasunyatan Jati dengan Kawruh Sejati?
Kawruh Sejati dipahami sebagai pepadhang yang bersumber dari Prabhawaning Panguripan, sedangkan Kawruh Kasunyatan Jati merupakan proses manusia mengenali kasunyatan dengan menggunakan pepadhang tersebut dalam kehidupan.
7. Apa tanda seseorang mulai memahami Kawruh Kasunyatan Jati?
Tandanya bukan merasa lebih tinggi atau lebih tahu daripada orang lain, melainkan semakin jernih dalam berpikir, bening dalam merasa, teguh dalam bertindak, rendah hati, bijaksana, dan mampu hidup selaras dengan sesama serta kehidupan.
*Kawruh yang perlu juga dipahami :


Komentar
Posting Komentar
Silahkan berkomentar, jaga tata krama dan kesusilaan, jangan menuliskan link hidup pada kotak komentar. Maaf bilamana terjadi keterlambatan balasan komentar anda