Pendahuluan.
Setiap ajaran filsafat membutuhkan kerangka dasar agar berbagai gagasan di dalamnya tidak berdiri sendiri-sendiri. Tanpa kerangka yang jelas, istilah tentang kehidupan, manusia, kesadaran, batin, dan laku mudah bercampur sehingga sulit dipahami hubungan antara satu dengan lainnya.
Uttamopadesa menempatkan pemahaman tentang kehidupan sebagai dasar untuk memahami manusia dan kemudian menentukan bagaimana manusia seharusnya menjalani kehidupannya.
Dalam kerangka tersebut, terdapat lima pokok filsafat yang menjadi dasar pemahaman, yaitu Sang Sumber Panguripan, Prabhawaning Panguripan, Jatining Panguripan, Prāṇa atau Dayaning Panguripan, dan Panguripan. Kelimanya bukan sekadar istilah yang berbeda, melainkan memiliki kedudukan dan fungsi filosofis masing-masing.
Urutannya adalah:
Sang Sumber Panguripan → Prabhawaning Panguripan → Jatining Panguripan → Prāṇa atau Dayaning Panguripan → Panguripan.
Kerangka ini kemudian menjadi landasan bagi Kawruh Sejati, yaitu pengetahuan yang berusaha memahami kehidupan berdasarkan hakikatnya, serta Kawruh Kasunyatan, yaitu usaha manusia untuk mengenali kenyataan kehidupan dan mewujudkannya melalui perubahan cipta, rasa, dan karsa.
1. Sang Sumber Panguripan.
Pokok pertama adalah Sang Sumber Panguripan, yaitu asal dari segala keberadaan dan kehidupan.
Pertanyaan filosofis yang dijawab oleh bagian ini adalah:
Sapa sing dadi asal? Siapa yang menjadi asal mula?
Dalam pandangan Uttamopadesa, kehidupan tidak dipahami sebagai sesuatu yang berdiri tanpa asal. Segala yang hidup memiliki sumber keberadaan. Manusia, alam, dan seluruh kehidupan berada dalam suatu tatanan keberadaan yang memiliki asal dan dasar.
Sang Sumber Panguripan bukan sekadar konsep untuk diketahui secara intelektual. Kesadaran terhadap adanya sumber kehidupan menempatkan manusia pada pemahaman bahwa dirinya bukan pusat dari segala sesuatu. Manusia adalah bagian dari kehidupan yang lebih luas.
Dari sini tumbuh sikap rendah hati, penghargaan terhadap kehidupan, dan kesadaran bahwa keberadaan manusia memiliki hubungan dengan seluruh kehidupan.
2. Prabhawaning Panguripan.
Pokok kedua adalah Prabhawaning Panguripan.
Pertanyaan yang dijawab adalah:
Saka ngendi daya asal iku sumebar? Dari mana daya asal itu bisa menyebar?
Jika Sang Sumber Panguripan menunjuk kepada asal, maka Prabhawaning Panguripan menunjuk kepada pancaran atau daya asal yang mengawiti dumadine panguripan.
Dengan demikian, keduanya tidak boleh disamakan. Sumber menunjuk kepada asal keberadaan, sedangkan prabhawa menunjuk kepada daya atau pancaran yang berasal dari sumber tersebut dan memungkinkan terjadinya keberadaan serta kehidupan.
Pemahaman ini memberikan gambaran bahwa kehidupan bukan sesuatu yang muncul tanpa keteraturan. Ada daya yang membuat keberadaan dapat memancar, berkembang, dan berlangsung.
Dalam konteks Kawruh Sejati, pemahaman tentang Prabhawaning Panguripan membantu manusia melihat kehidupan sebagai suatu proses yang memiliki keteraturan. Manusia tidak hanya bertanya “siapa aku?”, tetapi juga “dari mana keberadaanku dan bagaimana kehidupan dapat berlangsung?”
Pertanyaan tersebut menjadi pintu menuju pemahaman yang lebih dalam mengenai hakikat kehidupan.
3. Jatining Panguripan.
Pokok ketiga adalah Jatining Panguripan.
Pertanyaannya:
Apa hakikat sejati saka panguripan?
Jatining Panguripan menunjuk kepada hakikat atau kesejatian kehidupan. Ini berbeda dari sekadar melihat kehidupan sebagai rangkaian peristiwa biologis, aktivitas sehari-hari, keberhasilan, kegagalan, kesenangan, atau penderitaan.
Manusia dapat menjalani kehidupan selama bertahun-tahun tetapi belum tentu memahami hakikat kehidupan yang dijalaninya.
Karena itu, Kawruh Sejati tidak berhenti pada pengetahuan tentang bagaimana kehidupan berlangsung. Ia bergerak lebih jauh menuju pertanyaan tentang apa yang sejati dalam kehidupan.
Di sinilah posisi Jatining Panguripan menjadi penting. Ia merupakan dasar untuk memahami bahwa kehidupan memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar keberlangsungan tubuh dan aktivitas lahiriah.
Pemahaman terhadap Jatining Panguripan kemudian menjadi landasan untuk mengenali Jati Dhiri Janma, sebab manusia tidak mungkin memahami dirinya dengan baik apabila belum memiliki pemahaman tentang kehidupan yang menjadi dasar keberadaannya.
4. Prāṇa atau Dayaning Panguripan.
Pokok keempat adalah Prāṇa atau Dayaning Panguripan.
Pertanyaannya:
Apa sing ndadekake panguripan bisa urip lan obah? Apa yang membuat kehidupan bisa berlangsung?
Prāṇa dipahami sebagai daya kehidupan, yaitu daya yang menopang, menghidupi, dan menggerakkan kehidupan.
Di sini perlu dibuat perbedaan yang tegas. Prāṇa bukan Jatining Panguripan. Prāṇa adalah daya yang membuat kehidupan dapat berlangsung, sedangkan Jatining Panguripan menunjuk kepada hakikat kehidupan itu sendiri.
Perbedaan tersebut penting agar kerangka filsafat Uttamopadesa tidak mencampuradukkan antara hakikat dan daya.
Secara sederhana dapat dikatakan:
Jatining Panguripan menjawab “apa hakikat kehidupan”, sedangkan Prāṇa menjawab “apa yang menghidupi kehidupan”.
Dari pengertian Dayaning Panguripan ini, pembahasan kemudian dapat bergerak menuju bagaimana daya kehidupan hadir dan bekerja dalam diri manusia. Di sinilah pembahasan tentang Sukma, Cipta, Rasa, dan Karsa memperoleh tempatnya.
Manusia bukan hanya sebagai makhluk yang hidup secara jasmani. Ia memiliki kehidupan batin yang melahirkan pikiran, rasa, kehendak, pertimbangan, dan tindakan.
5. Panguripan.
Pokok kelima adalah Panguripan, yaitu kehidupan sebagaimana diwujudkan dan dijalani.
Pertanyaannya:
Kepiye urip iku kawujud? Bagaimana kehidupan itu bisa terwujud dengan baik?
Jika empat pokok sebelumnya memberikan dasar pemahaman, maka Panguripan merupakan kenyataan kehidupan yang dialami manusia.
Di sinilah manusia menghadapi kehidupan secara langsung: berpikir, merasakan, memilih, bertindak, berhubungan dengan sesama, menghadapi perubahan, menghadapi persoalan, dan menentukan arah hidup.
Karena itu, filsafat Uttamopadesa tidak dimaksudkan hanya menjadi pemikiran abstrak. Pemahaman tentang kehidupan harus berakhir pada laku kehidupan.
Pengetahuan yang tidak mengubah cara manusia menjalani kehidupan belum mencapai tujuan yang sebenarnya.
Hubungan dengan Kawruh Sejati.
Kelima dasar tersebut menjadi kerangka bagi pemahaman Kawruh Sejati.
Kawruh Sejati bukan sekadar kumpulan informasi tentang kehidupan. Ia merupakan pengetahuan yang mengarahkan manusia untuk memahami kehidupan secara mendasar: mengetahui sumbernya, memahami daya yang memancar, mengenali hakikatnya, memahami daya kehidupan, kemudian melihat bagaimana kehidupan itu diwujudkan.
Dengan demikian, Kawruh Sejati bergerak dari pemahaman yang paling mendasar menuju pemahaman tentang kehidupan manusia.
Urutannya dapat digambarkan sebagai:
Sang Sumber Panguripan → Prabhawaning Panguripan → Jatining Panguripan → Dayaning Panguripan → Panguripan → Jati Dhiri Janma → Laku Urip.
Artinya, pemahaman tentang manusia tidak berdiri sendiri. Ia merupakan kelanjutan dari pemahaman tentang kehidupan.
Hubungan dengan Kawruh Kasunyatan.
Jika Kawruh Sejati memberikan penerangan mengenai kehidupan, maka Kawruh Kasunyatan merupakan usaha manusia untuk mengenali dan menghadapi kenyataan kehidupan sebagaimana adanya.
Kawruh Kasunyatan tidak cukup hanya dengan memahami istilah atau konsep. Ia harus diwujudkan dalam perubahan diri.
Di sinilah muncul tiga unsur utama manusia:
Cipta, Rasa, dan Karsa.
Cipta perlu ditata agar manusia mampu melihat dengan jernih. Rasa perlu dibersihkan agar manusia tidak mudah dikuasai kebencian, keserakahan, iri hati, dan berbagai pangraos yang mengeruhkan batin. Karsa perlu ditata agar kehendak tidak berjalan tanpa pertimbangan dan tidak menghasilkan tindakan yang merugikan.
Dengan demikian, hubungan keduanya dapat dirumuskan secara sederhana:
Kawruh Sejati menerangi pemahaman.Kawruh Kasunyatan menguji pemahaman dalam kehidupan.
Laku menjadi bukti dari keduanya.
Seseorang tidak cukup mengatakan bahwa dirinya memahami kehidupan. Pemahaman tersebut harus tampak dalam cara berpikir, cara merasakan, cara memilih, dan cara bertindak.
Dari Filsafat Menuju Laku.
Kerangka dasar Uttamopadesa pada akhirnya tidak berhenti pada pembahasan metafisik. Tujuan akhirnya adalah membantu manusia menjalani kehidupan dengan lebih benar, jernih, selaras, dan bermanfaat.
Dari lima dasar tersebut kemudian dapat diturunkan berbagai kajian lain dalam Uttamopadesa, seperti Jati Dhiri Janma, Sukma, Cipta, Rasa, Karsa, kesadaran diri, pengendalian diri, kebersihan batin, persaudaraan, dan laku kehidupan.
Dengan demikian, filsafat bukan sekadar kegiatan berpikir tentang sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Filsafat menjadi dasar untuk memahami mengapa manusia hidup dan bagaimana kehidupan seharusnya dijalani.
Kawruh Sejati memberikan arah pemahaman, sedangkan Kawruh Kasunyatan mengajarkan manusia untuk membuktikan pemahaman itu melalui laku.
Penutup.
Kerangka Dasar Filsafat Uttamopadesa bertumpu pada lima pengertian yang memiliki hubungan berurutan: Sang Sumber Panguripan, Prabhawaning Panguripan, Jatining Panguripan, Prāṇa atau Dayaning Panguripan, dan Panguripan.
Kelima unsur tersebut membentuk dasar untuk memahami kehidupan secara utuh. Sang Sumber Panguripan menunjuk kepada asal, Prabhawaning Panguripan kepada pancaran daya asal, Jatining Panguripan kepada hakikat kehidupan, Prāṇa kepada daya yang menghidupi, sedangkan
Panguripan menunjuk kepada kehidupan sebagaimana diwujudkan dan dijalani.
Dari sinilah Kawruh Sejati memperoleh landasannya. Manusia tidak hanya diajak mengetahui tentang kehidupan, tetapi juga mengenali dirinya sebagai bagian dari kehidupan dan kemudian menata cara hidupnya.
Pada akhirnya, Kawruh Sejati harus menerangi Kawruh Kasunyatan, dan Kawruh Kasunyatan harus tampak dalam laku. Sebab ukuran kedalaman sebuah kawruh bukan semata-mata banyaknya istilah yang diketahui, melainkan sejauh mana pengetahuan tersebut membuat manusia semakin jernih dalam cipta, bersih dalam rasa, tertata dalam karsa, dan benar dalam menjalani kehidupan.
FAQ - Dasar Filsafat Kawruh Uttamopadesa.
1. Apa yang dimaksud Kerangka Dasar Filsafat Uttamopadesa?
Kerangka Dasar Filsafat Uttamopadesa adalah susunan pemikiran yang menjelaskan hubungan antara sumber kehidupan, daya asal kehidupan, hakikat kehidupan, daya kehidupan, dan kehidupan yang dijalani manusia.
2. Apa lima dasar filsafat Uttamopadesa?
Lima dasar tersebut adalah Sang Sumber Panguripan, Prabhawaning Panguripan, Jatining Panguripan, Prāṇa atau Dayaning Panguripan, dan Panguripan.
3. Apa hubungan Prāṇa dengan Dayaning Panguripan?
Dalam kerangka Uttamopadesa, Prāṇa dipahami sebagai Dayaning Panguripan, yaitu daya yang menopang, menghidupi, dan menggerakkan kehidupan.
4. Apakah Prāṇa sama dengan Jatining Panguripan?
Tidak. Jatining Panguripan menunjuk kepada hakikat kehidupan, sedangkan Prāṇa menunjuk kepada daya yang menghidupi kehidupan.
5. Apa hubungan Kawruh Sejati dengan kerangka filsafat ini?
Kerangka lima dasar tersebut menjadi landasan bagi Kawruh Sejati untuk memahami kehidupan secara mendasar, mulai dari sumber kehidupan hingga kehidupan yang dijalani manusia.
6. Apa hubungan Kawruh Kasunyatan dengan Kawruh Sejati?
Kawruh Sejati memberikan dasar pemahaman, sedangkan Kawruh Kasunyatan merupakan usaha manusia mengenali kenyataan dan menerapkan pemahaman tersebut dalam kehidupan nyata.
7. Mengapa Cipta, Rasa, dan Karsa penting dalam Uttamopadesa?
Karena pemahaman tentang kehidupan harus diwujudkan dalam kehidupan manusia. Cipta perlu dijernihkan, rasa dibersihkan, dan karsa ditata agar pengetahuan menghasilkan perubahan perilaku.
8. Apakah filsafat Uttamopadesa hanya membahas hal-hal metafisik?
Tidak. Pembahasan dasarnya memang menyentuh pertanyaan tentang asal dan hakikat kehidupan, tetapi tujuannya adalah membawa manusia kepada pemahaman diri dan laku kehidupan yang benar, selaras, dan bermanfaat.
*Kawruh yang perlu juga dipahami :


Komentar
Posting Komentar
Silahkan berkomentar, jaga tata krama dan kesusilaan, jangan menuliskan link hidup pada kotak komentar. Maaf bilamana terjadi keterlambatan balasan komentar anda