NAWA PRANATANING KAWRUH SEJATI MENURUT KAWRUH UTTAMOPADESA.
Pendahuluan.
Di tengah kehidupan yang semakin terbuka, manusia berhadapan dengan begitu banyak pengetahuan. Setiap hari kita dapat membaca tulisan, mendengar berbagai pendapat, menyaksikan informasi, serta menerima beragam ajaran dari berbagai sumber. Banyaknya pengetahuan tentu dapat memperluas wawasan. Namun, banyaknya informasi tidak selalu berarti bertambahnya pemahaman.
Justru ketika pengetahuan semakin banyak, manusia perlu semakin mampu membedakan mana pengetahuan yang benar-benar memberi terang dan mana yang hanya menambah keruwetan pikiran. Tidak semua yang sering didengar berarti benar. Tidak semua yang dipercaya banyak orang otomatis sesuai dengan kenyataan. Demikian pula, kata-kata yang indah belum tentu memiliki hubungan yang nyata dengan kehidupan.
Karena itu, Kawruh Sejati tidak dapat diukur hanya dari banyaknya pengetahuan yang dimiliki. Kawruh Sejati harus mampu menerangi pamawas, membersihkan cipta, menjernihkan rasa, dan mengarahkan karsa menuju kehidupan yang lebih baik.
Atas dasar pemahaman tersebut, Nawa Pranataning Kawruh Sejati disusun sebagai sembilan prinsip untuk memahami, menilai, dan menjalankan kawruh. Kesembilan prinsip ini bukan dimaksudkan untuk mengunggulkan suatu ajaran, melainkan sebagai landasan agar manusia tidak mudah terseret oleh pengetahuan yang hanya mengutamakan kepentingan pribadi, kebanggaan, atau keyakinan tanpa pengujian dalam kehidupan nyata.
Kawruh yang sejati pada akhirnya harus terlihat dalam kehidupan. Jika pengetahuan benar-benar dipahami, seharusnya ada perubahan pada cara berpikir, cara merasa, cara berbicara, dan cara bertindak.
Kawruh kang sejati ora mung katon saka akehe tembung, nanging saka owahing urip lan beciking lampah.
1. Sangkaning Panguripan.
Prinsip pertama adalah memahami Sangkaning Panguripan, yaitu asal dan dasar keberadaan kehidupan.
Manusia tidak hidup dalam keadaan yang berdiri sendiri. Kehidupan memiliki keteraturan, hubungan, dan kesinambungan.
Manusia menjadi bagian dari keseluruhan panguripan, bukan penguasa mutlak atas segala sesuatu.
Memahami Sangkaning Panguripan berarti mulai melihat kehidupan secara lebih luas. Manusia tidak hanya bertanya tentang bagaimana memperoleh sesuatu untuk dirinya sendiri, tetapi juga memahami dari mana kehidupan berasal, bagaimana kehidupan berlangsung, dan bagaimana keberadaan dirinya berhubungan dengan kehidupan yang lain.
Dari pemahaman ini tumbuh sikap rendah hati. Manusia menyadari bahwa dirinya hanyalah bagian dari keseluruhan yang lebih luas.
2. Jati Dhiri.
Prinsip kedua adalah Jati Dhiri, yaitu mengenali diri secara lebih mendalam.
Manusia sering mengira bahwa keinginan, pendapat, kebiasaan, atau ambisi yang ada dalam dirinya merupakan jati dirinya.
Padahal, banyak di antaranya terbentuk oleh pengaruh lingkungan, pengalaman, kepentingan, dan pandangan orang lain.
Mengenali jati diri berarti belajar membedakan antara diri yang sebenarnya dengan berbagai dorongan yang hanya muncul karena pengaruh luar.
Dengan mengenali diri, manusia dapat melihat kelemahan dan kekuatannya secara lebih jujur. Dari sinilah proses pembenahan diri dimulai. Tanpa mengenali diri, manusia mudah menyalahkan keadaan dan orang lain tanpa melihat apa yang terjadi di dalam dirinya sendiri.
3. Resiking Cipta.
Prinsip ketiga adalah Resiking Cipta, atau membersihkan pikiran dan pamawas.
Cipta yang tidak terjaga dapat dipenuhi prasangka, kepentingan pribadi, rasa lebih unggul, kemarahan, ketakutan, atau keinginan untuk menguasai orang lain. Jika hal itu dibiarkan, manusia tidak lagi melihat kenyataan sebagaimana adanya, melainkan melihatnya melalui kepentingannya sendiri.
Resiking Cipta bukan berarti tidak boleh memiliki pendapat. Sebaliknya, manusia justru harus mampu berpikir dan menilai dengan lebih jernih.
Cipta yang resik membuat seseorang mampu bertanya sebelum percaya, menimbang sebelum menilai, dan memahami sebelum mengambil keputusan.
4. Weninging Rasa.
Setelah cipta dibersihkan, manusia perlu menata rasa.
Rasa merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia. Melalui rasa, manusia mengalami kasih, kepedulian, keprihatinan, kebahagiaan, dan hubungan dengan sesama.
Namun, rasa juga dapat menjadi keruh apabila dikuasai kebencian, iri hati, ketakutan, dendam, atau keterikatan yang berlebihan.
Weninging Rasa berarti membiarkan rasa tumbuh tanpa dikuasai oleh gejolak yang membuat pamawas menjadi sempit.
Rasa yang wening tidak berarti manusia kehilangan perasaan. Justru sebaliknya, manusia menjadi lebih mampu merasakan tanpa kehilangan kejernihan. Ia dapat memahami penderitaan orang lain tanpa membenci, menghadapi perbedaan tanpa merendahkan, dan menerima keadaan tanpa kehilangan keseimbangan batin.
5. Utamaning Karsa.
Prinsip kelima adalah Utamaning Karsa, yaitu mengarahkan kehendak kepada tindakan yang baik.
Kawruh tidak akan memiliki arti apabila hanya berhenti dalam pikiran. Pengetahuan harus diwujudkan melalui karsa dan tindakan.
Karsa yang utama bukan sekadar keinginan untuk mencapai kepentingan pribadi. Karsa harus mempertimbangkan akibat dari tindakan terhadap diri sendiri, orang lain, dan kehidupan secara keseluruhan.
Karena itu, seseorang yang memahami kawruh tidak cukup hanya mampu berbicara tentang kebaikan. Ia harus mampu melakukan kebaikan tersebut.
Kawruh menjadi nyata ketika pemahaman berubah menjadi tindakan.
6. Sadar marang Kasunyatan Sejati.
Prinsip keenam adalah Sadar marang Kasunyatan Sejati.
Manusia sering hidup berdasarkan apa yang ingin dipercayainya, bukan berdasarkan apa yang benar-benar terjadi. Harapan, dugaan, kabar, pendapat, dan keyakinan dapat bercampur menjadi satu sehingga sulit dibedakan dari kenyataan.
Kesadaran terhadap kasunyatan sejati mengajarkan manusia untuk tidak tergesa-gesa menerima sesuatu. Setiap pemahaman perlu dilihat, dipikirkan, dialami, dan dinilai dengan jernih.
Bukan berarti segala sesuatu harus diragukan tanpa akhir. Yang diperlukan adalah sikap sadar dan teliti. Manusia harus berani mengakui ketika dirinya belum mengetahui sesuatu, sekaligus bersedia memperbaiki pemahaman apabila menemukan kenyataan yang berbeda.
7. Sih marang Panguripan.
Prinsip ketujuh adalah Sih marang Panguripan.
Sih bukan hanya perasaan kasih yang berada di dalam hati. Sih harus hadir sebagai sikap dan tindakan nyata terhadap kehidupan.
Jika manusia memahami bahwa dirinya merupakan bagian dari panguripan, maka ia akan menyadari bahwa tindakannya selalu memiliki hubungan dengan kehidupan di sekitarnya.
Sih kepada panguripan diwujudkan dengan tidak sengaja menyakiti, tidak merendahkan sesama, tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya, serta menjaga hubungan yang baik dengan lingkungan dan kehidupan bersama.
Dengan demikian, sih bukan sekadar perasaan. Sih menjadi dasar bagi tindakan yang menjaga keberlangsungan kehidupan.
8. Lampah lan Tanggung Jawab.
Prinsip kedelapan adalah Lampah lan Tanggung Jawab.
Setiap cipta, rasa, ucapan, dan tindakan memiliki akibat. Karena itu, manusia tidak dapat memisahkan kebebasan dari tanggung jawab.
Kawruh sejati mengajarkan manusia untuk berani melihat akibat dari tindakannya sendiri. Jika melakukan kesalahan, ia tidak mencari alasan untuk melepaskan diri dari tanggung jawab. Jika tindakannya membawa kebaikan, ia juga tidak perlu menjadikannya alasan untuk menyombongkan diri.
Tanggung jawab dimulai dari diri sendiri. Manusia perlu mengawasi apa yang dipikirkan, dirasakan, dikatakan, dan dilakukan.
Ukuran kemajuan kawruh bukanlah seberapa banyak seseorang mampu menjelaskan suatu ajaran, melainkan seberapa jauh ajaran itu mengubah lampah hidupnya.
9. Manunggal karo Tatananing Panguripan.
Prinsip terakhir adalah Manunggal karo Tatananing Panguripan, yaitu hidup selaras dengan tatanan kehidupan.
Manunggal di sini tidak harus dipahami sebagai hilangnya diri manusia. Maknanya adalah keselarasan antara kehidupan pribadi dengan kenyataan dan tatanan kehidupan yang lebih luas.
Manusia tidak lagi menjadikan kepentingan dirinya sebagai satu-satunya ukuran. Ia belajar hidup dengan wening, tentrem, sederhana, bertanggung jawab, dan bermanfaat.
Pada tahap ini, kawruh tidak lagi hanya menjadi sesuatu yang dipelajari. Kawruh telah menjadi cara menjalani kehidupan.
Manusia tidak perlu terus-menerus mengejar kemuliaan yang hanya berpusat pada dirinya. Yang lebih penting adalah bagaimana dirinya mampu hadir sebagai bagian dari kehidupan tanpa merusak keseimbangan yang ada.
Kesatuan Sembilan Prinsip.
Kesembilan prinsip tersebut sebenarnya merupakan satu rangkaian yang saling berhubungan.
Sangkaning Panguripan memberi dasar pemahaman tentang kehidupan. Dari sana manusia diarahkan untuk mengenali Jati Dhiri. Setelah mengenali diri, ia belajar melakukan Resiking Cipta dan Weninging Rasa. Cipta dan rasa yang semakin tertata kemudian mengarahkan Utamaning Karsa.
Karsa yang baik perlu dijalankan dengan Sadar marang Kasunyatan, sehingga tindakan tidak didasarkan pada angan-angan semata. Dari kesadaran tersebut tumbuh Sih marang Panguripan, yang kemudian diwujudkan melalui Lampah lan Tanggung Jawab. Seluruh proses itu pada akhirnya membawa manusia menuju Manunggal karo Tatananing Panguripan.
Dengan demikian, Nawa Pranataning Kawruh Sejati bukan sembilan bagian yang berdiri sendiri. Kesembilan prinsip tersebut merupakan jalan dari pemahaman menuju kesadaran, dari kesadaran menuju pembenahan diri, dan dari pembenahan diri menuju kehidupan yang selaras.
Penutup.
Nawa Pranataning Kawruh Sejati bukan sekadar sembilan kalimat yang indah untuk dibaca. Ia merupakan kaca untuk melihat diri dan pituduh untuk menjalani kehidupan.
Kawruh yang hanya berhenti sebagai pengetahuan belum mencapai tujuannya.
Kawruh harus turun menjadi kesadaran, kesadaran harus tumbuh menjadi sikap, dan sikap harus tampak dalam lampah.
Karena itu, ukuran Kawruh Sejati bukan terutama banyaknya istilah yang dikuasai atau banyaknya pengetahuan yang dapat dijelaskan. Ukurannya adalah perubahan nyata dalam kehidupan.
Apakah cipta menjadi lebih resik? Apakah rasa menjadi lebih wening? Apakah karsa menjadi lebih utama? Apakah manusia menjadi lebih jujur kepada dirinya sendiri, lebih bertanggung jawab, dan lebih mampu menjaga kehidupan bersama?
Jika jawabannya semakin nyata dalam kehidupan sehari-hari, maka kawruh telah mulai menjadi laku.
Pada akhirnya, manusia tidak mempelajari Kawruh Sejati untuk mengunggulkan dirinya atas orang lain. Kawruh dipelajari agar manusia semakin memahami kehidupan, mengenali dirinya, membersihkan batinnya, dan menjalani kehidupan dengan lebih benar.
Kawruh kang sejati bakal katon saka resiking cipta, weninging rasa, lan utamaning karsa.
FAQ - Nawa Pranataning Kawruh Sejati.
Apa yang dimaksud dengan Nawa Pranataning Kawruh Sejati?
Nawa Pranataning Kawruh Sejati adalah sembilan prinsip dasar untuk memahami, menilai, dan menjalankan Kawruh Sejati agar pengetahuan tidak berhenti sebagai pemahaman, tetapi menjadi perubahan dalam kehidupan.
Apa tujuan utama sembilan prinsip ini?
Tujuannya adalah membantu manusia memahami kehidupan, mengenali jati diri, membersihkan cipta, menjernihkan rasa, menata karsa, serta menjalani kehidupan secara bertanggung jawab dan selaras.
Mengapa Kawruh Sejati tidak cukup hanya dipelajari?
Karena pengetahuan yang tidak mengubah cara berpikir, merasa, dan bertindak belum memberikan perubahan nyata. Kawruh Sejati harus terlihat dalam lampah kehidupan.
Apa hubungan cipta, rasa, dan karsa dalam Nawa Pranataning Kawruh Sejati?
Cipta berhubungan dengan cara manusia memahami dan menilai, rasa berkaitan dengan cara manusia merasakan dan menyikapi, sedangkan karsa merupakan kehendak yang diwujudkan dalam tindakan. Ketiganya harus ditata secara seimbang.
Apakah Nawa Pranataning Kawruh Sejati merupakan ajaran agama?
Bukan. Nawa Pranataning Kawruh Sejati dalam kerangka Uttamopadesa wajib dipahami sebagai prinsip kawruh dan laku hidup. Penekanannya adalah pada pembentukan kesadaran, pengendalian diri, kebersihan cipta, kejernihan rasa, dan tindakan yang bermanfaat.
Bagaimana cara menerapkan sembilan prinsip tersebut?
Penerapannya dimulai dari hal sederhana: mengenali diri, memeriksa pikiran sebelum mengambil keputusan, mengendalikan gejolak rasa, mempertimbangkan akibat tindakan, berkata dan bertindak secara jujur, serta berusaha memberikan manfaat bagi kehidupan di sekitar.
Apa ukuran bahwa seseorang mulai memahami Kawruh Sejati?
Ukuran utamanya adalah perubahan perilaku. Semakin resik cipta, semakin wening rasa, semakin utama karsa, dan semakin bertanggung jawab lampahnya, semakin tampak hasil dari kawruh yang dipelajari.
Apakah sembilan prinsip ini harus dipahami secara berurutan?
Kesembilan prinsip memiliki hubungan yang berkesinambungan, tetapi tidak harus dipahami sebagai tahapan yang kaku. Seseorang dapat menghayatinya secara bertahap sambil terus memperbaiki diri.
Apa inti dari Nawa Pranataning Kawruh Sejati?
Intinya adalah menjadikan pengetahuan sebagai jalan untuk memahami kehidupan, mengenali diri, membersihkan cipta, menjernihkan rasa, mengutamakan karsa, dan menjalani hidup secara selaras serta bertanggung jawab.
Uraian tambahan pengetahuan :


Komentar
Posting Komentar
Silahkan berkomentar, jaga tata krama dan kesusilaan, jangan menuliskan link hidup pada kotak komentar. Maaf bilamana terjadi keterlambatan balasan komentar anda