Memahami Nawa Samadhi sebagai Keselarasan Cipta, Rasa, dan Karsa
Dalam Kawruh Uttamopadesa, kehidupan manusia tidak dipandang hanya sebagai rangkaian pengalaman yang datang dan berlalu. Kehidupan merupakan ruang bagi manusia untuk mengenali dirinya, memahami kenyataan, serta membentuk laku yang semakin selaras dengan tatanan panguripan.
Dalam kerangka tersebut, Nawa Samadhi Uttamopadesa dapat dipahami sebagai jalan pendalaman kesadaran. Samadhi tidak berhenti pada keadaan tertentu ketika manusia duduk dalam keheningan, tetapi berkaitan dengan bagaimana kesadaran hadir dalam seluruh kehidupan.
Samadhi menjadi berarti ketika kejernihan batin mampu mempengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, menentukan kehendak, dan bertindak.
Karena itu, Nawa Samadhi tidak terutama berbicara tentang berapa lama seseorang mampu berdiam dalam keheningan. Yang lebih penting adalah bagaimana kesadaran tersebut membentuk kehidupan yang nyata.
1. Samadhi Dimulai dari Kemampuan Menata Diri.
Manusia menghadapi berbagai dorongan sepanjang kehidupannya. Keinginan terhadap harta, kedudukan, penghormatan, kesenangan, maupun pengakuan dapat mempengaruhi cipta, rasa, dan karsa.
Dalam keadaan demikian, manusia mudah kehilangan kejernihan. Sesuatu yang diinginkan dapat dianggap sebagai sesuatu yang harus diperoleh. Sesuatu yang tidak disukai dapat dianggap sebagai sesuatu yang harus dilawan.
Nawa Samadhi mengajarkan proses yang berbeda. Manusia terlebih dahulu belajar melihat bagaimana dirinya berhubungan dengan berbagai dorongan tersebut. Inilah makna penting Samadhi Panarik. Cipta tidak harus mengikuti setiap keinginan yang muncul.
Menarik cipta dari godaan dunia bukan berarti menjauhi kehidupan. Manusia tetap bekerja, memiliki keluarga, mencari penghidupan, berhubungan dengan masyarakat, dan menggunakan berbagai sarana kehidupan. Yang ditata adalah keterikatan di dalam diri.
Ketika cipta tidak lagi mudah dikuasai oleh keinginan, manusia memperoleh ruang untuk melihat dirinya secara lebih jernih.
2. Kesadaran Tumbuh melalui Pamawas.
Setelah keterikatan mulai dikenali, langkah berikutnya adalah mengamati keadaan diri.
Inilah yang tercermin dalam Samadhi Pamawas.
Pamawas merupakan kemampuan melihat gerak cipta, rasa, dan karsa sebelum semuanya berubah menjadi tindakan. Ketika kemarahan muncul, manusia tidak langsung menjadi kemarahan itu sendiri. Ketika iri hati muncul, manusia tidak harus langsung mengikuti dorongan tersebut.
Ada jarak kesadaran yang memungkinkan seseorang melihat apa yang sedang terjadi di dalam dirinya.
Kemampuan semacam ini penting karena perubahan laku tidak mungkin terjadi apabila manusia tidak mengenali sumber dorongan tindakannya sendiri.
Melalui pamawas, manusia mulai bertanya:
Apa yang sedang muncul dalam cipta?
Apa yang sedang bergerak dalam rasa?
Ke mana karsa sedang diarahkan?
Apakah tindakan yang akan dilakukan benar-benar menuju kebaikan?
Pertanyaan semacam itu menjadikan kesadaran bukan sekadar pengetahuan tentang diri, tetapi kemampuan untuk melihat diri secara nyata.
3. Wening Bukan Berarti Menghentikan Kehidupan.
Kesalahpahaman mengenai ketenangan batin dapat muncul ketika wening dianggap sebagai keadaan tanpa pikiran atau tanpa persoalan.
Dalam perspektif Uttamopadesa, Samadhi Wening tidak berarti manusia harus menghentikan kehidupan.
Manusia tetap menghadapi pekerjaan, keluarga, persoalan ekonomi, perbedaan pendapat, perubahan keadaan, serta berbagai pengalaman kehidupan. Yang berubah adalah cara manusia menghadapinya.
Cipta yang wening tidak mudah tergesa-gesa mengambil kesimpulan. Rasa yang semakin tulus tidak mudah berubah menjadi kebencian. Karsa yang semakin utama tidak mudah digunakan untuk membalas keburukan.
Dengan demikian, wening bukan keadaan kosong. Wening merupakan kejernihan yang memungkinkan manusia melihat sesuatu tanpa terlalu dikuasai oleh gejolak dirinya sendiri.
4. Tentrem Harus Terlihat dalam Laku.
Kesadaran yang berkembang kemudian membawa manusia menuju Samadhi Tentrem.
Tentrem bukan hanya perasaan nyaman di dalam diri. Ketenteraman yang lebih utuh terlihat dari hubungan manusia dengan sesama.
Orang yang semakin tentrem tidak berarti tidak pernah marah atau tidak pernah mengalami masalah. Yang berubah adalah kemampuannya dalam menghadapi keadaan tersebut.
Ia tidak mudah membalas keburukan dengan keburukan. Ia mampu menahan ucapan ketika kemarahan sedang muncul. Ia mampu mendengarkan sebelum memberikan penilaian. Ia mampu mengakui kesalahan tanpa merasa kehilangan harga diri.
Di sinilah Nawa Samadhi memiliki hubungan langsung dengan laku kehidupan. Samadhi tidak lagi hanya menjadi keadaan batin, tetapi mulai menjadi watak dalam perilaku.
5. Kawruh Tidak Berhenti sebagai Pengetahuan.
Tahap berikutnya adalah Samadhi Kawruh.
Kawruh memiliki kedudukan penting karena manusia membutuhkan pemahaman untuk menjalani kehidupan. Namun, pengetahuan yang hanya tersimpan dalam pikiran belum tentu mengubah kehidupan.
Seseorang dapat mengetahui pentingnya ketulusan, tetapi masih bertindak karena pamrih.
Seseorang dapat memahami pentingnya kesabaran, tetapi masih mudah dikuasai kemarahan.
Seseorang dapat berbicara tentang kebijaksanaan, tetapi belum tentu mampu menerapkannya ketika menghadapi persoalan.
Karena itu, dalam perjalanan Nawa Samadhi, kawruh perlu diteruskan menuju penghayatan.
Pengetahuan yang benar seharusnya membantu manusia melihat kehidupan dengan lebih jernih, bukan membuat dirinya merasa lebih tinggi daripada orang lain. Semakin dalam kawruh dipahami, semakin besar pula kesadaran terhadap keterbatasan diri.
6. Dari Kawruh Menuju Pangrasa.
Samadhi Pangrasa menunjukkan perubahan penting dalam perjalanan kesadaran.
Pada tahap ini, sesuatu yang sebelumnya hanya dipahami mulai dihayati dalam kehidupan.
Manusia tidak lagi sekadar mengetahui bahwa kasih itu penting. Ia mulai mewujudkan kasih dalam cara memperlakukan sesama.
Ia tidak hanya mengetahui bahwa kesombongan merupakan penghalang kejernihan. Ia mulai mampu melihat kesombongan ketika muncul dalam dirinya sendiri.
Ia tidak hanya memahami bahwa setiap tindakan memiliki akibat. Ia mulai mempertimbangkan akibat sebelum bertindak.
Dengan demikian, pangrasa bukan sekadar perasaan. Pangrasa merupakan kedalaman penghayatan terhadap apa yang telah dipahami.
Di sinilah hubungan antara Kawruh Sejati dan laku menjadi penting. Kawruh Sejati menjadi pepadhang, sedangkan manusia perlu mewujudkan pemahaman tersebut dalam kehidupan.
7. Pepadhang Menuntun Kehidupan.
Dalam Samadhi Pepadhang, kejernihan semakin berfungsi sebagai penerang kehidupan.
Pepadhang tidak harus dipahami sebagai sesuatu yang terlihat secara fisik. Ia menunjuk pada kemampuan memahami sesuatu secara lebih jernih sehingga manusia tidak mudah tersesat oleh dorongan, prasangka, atau kepentingan pribadi.
Pepadhang membuat manusia lebih mampu melihat persoalan secara menyeluruh.
Sebelum berbicara, ia mempertimbangkan akibat perkataannya.
Sebelum bertindak, ia mempertimbangkan dampaknya.
Ketika menghadapi perbedaan, ia tidak segera menganggap dirinya paling benar.
Ketika memperoleh keberhasilan, ia tidak menjadikannya alasan untuk merendahkan orang lain.
Dengan demikian, pepadhang bukan sekadar pengalaman batin. Pepadhang harus hadir dalam cara manusia menjalani kehidupan.
8. Kesucian Berarti Berkurangnya Pamrih.
Samadhi Suci membawa perhatian kepada persoalan yang lebih halus, yaitu pamrih.
Pamrih tidak selalu berbentuk keinginan memperoleh harta atau kedudukan. Dalam perjalanan kesadaran, pamrih dapat muncul dalam bentuk keinginan untuk dipuji, dianggap bijaksana, dianggap paling memahami kebenaran, bahkan dianggap paling suci.
Karena itu, semakin dalam perjalanan samadhi, semakin penting kemampuan melihat pamrih yang tersembunyi.
Kesucian bukan berarti seseorang merasa dirinya telah sempurna. Sebaliknya, kesucian tampak dalam semakin berkurangnya kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain.
Manusia tetap melakukan kebaikan meskipun tidak dipuji. Tetap menolong meskipun tidak mendapatkan balasan. Tetap menjaga kebenaran meskipun tidak memperoleh penghormatan. Di sinilah ketulusan menjadi semakin nyata.
9. Sampurna sebagai Keselarasan Hidup.
Puncak Nawa Samadhi adalah Samadhi Sampurna.
Sampurna bukan berarti manusia menjadi makhluk yang tidak pernah salah. Sampurna juga bukan berarti kehidupan duniawi harus ditinggalkan.
Sampurna lebih tepat dipahami sebagai semakin utuhnya keselarasan antara kesadaran dan laku kehidupan.
Cipta menjadi semakin wening. Rasa menjadi semakin tulus. Karsa menjadi semakin utama. Budi menjadi semakin bijaksana.
Pengetahuan tidak terpisah dari penghayatan. Penghayatan tidak terpisah dari tindakan. Tindakan tidak terpisah dari tanggung jawab.
Dalam keadaan demikian, kehidupan sehari-hari menjadi tempat berlangsungnya samadhi.
Manusia tidak perlu menciptakan kehidupan khusus untuk membuktikan kesadarannya. Cara berbicara, bekerja, memperlakukan keluarga, menghadapi persoalan, menggunakan harta, mengambil keputusan, dan berhubungan dengan sesama menjadi bagian dari laku samadhi.
Nawa Samadhi sebagai Kesatuan Perjalanan.
Jika diperhatikan secara keseluruhan, sembilan keadaan dalam Nawa Samadhi membentuk perjalanan yang saling berhubungan.
Panarik menata keterikatan. Pamawas menumbuhkan kemampuan melihat diri. Wening menjernihkan cipta. Tentrem menyelaraskan cipta, rasa, dan karsa. Kawruh menjadikan pengetahuan sebagai penuntun. Pangrasa mengubah pengetahuan menjadi penghayatan. Pepadhang menjadikan kejernihan sebagai penerang kehidupan. Suci memurnikan diri dari pamrih. Sampurna membawa kehidupan menuju keselarasan dengan Sang Sumber Panguripan.
Urutan tersebut menunjukkan bahwa samadhi bukan perjalanan untuk mengejar pengalaman yang luar biasa. Yang menjadi perhatian utama justru adalah perubahan manusia dalam menjalani kehidupan.
Nawa Samadhi dan Ukuran Keberhasilan Laku.
Ukuran perjalanan samadhi akhirnya dapat dilihat melalui kehidupan nyata.
Apakah manusia menjadi lebih mampu mengendalikan dirinya?
Apakah ia semakin jujur terhadap dirinya sendiri?
Apakah ia semakin mampu menerima kekurangan?
Apakah ia semakin tulus dalam memperlakukan sesama?
Apakah ia semakin berhati-hati dalam menggunakan kehendaknya?
Apakah ia semakin rendah hati ketika memperoleh pengetahuan?
Pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa kesadaran tidak dapat dipisahkan dari laku.
Dalam kerangka Uttamopadesa, kesadaran yang tidak diwujudkan dalam laku belum menunjukkan purnanya perjalanan.
Karena itu, samadhi bukan hanya sesuatu yang dilakukan. Samadhi perlahan menjadi cara manusia menjalani kehidupan.
Penutup.
Nawa Samadhi Uttamopadesa memberikan pemahaman bahwa perjalanan kesadaran tidak harus dipisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Manusia tidak perlu melarikan diri dari dunia untuk menemukan kejernihan. Justru di tengah kehidupan nyata, kejernihan itu diuji dan diwujudkan.
Cipta yang wening diuji ketika menghadapi persoalan. Rasa yang tulus diuji ketika menghadapi perbedaan. Karsa yang utama diuji ketika manusia memiliki kesempatan untuk memilih antara kepentingan diri dan kebaikan yang lebih luas.
Dengan demikian, samadhi menjadi laku kesadaran.
Semakin dalam kesadaran manusia memahami dirinya dan kehidupan, semakin nyata pula tuntutan untuk menghadirkan kejernihan, ketulusan, kebijaksanaan, dan kebajikan dalam setiap tindakan.
Nawa Samadhi pada akhirnya bukan sekadar perjalanan menuju keadaan batin tertentu, melainkan perjalanan menjadikan seluruh kehidupan semakin selaras dengan Tatananing Panguripan dan Sang Sumber Panguripan.
FAQ - Laku Kesadaran dalam Kehidupan.
1. Apakah Nawa Samadhi Uttamopadesa sama dengan meditasi?
Tidak. Nawa Samadhi tidak dibatasi pada kegiatan meditasi atau keheningan. Samadhi dipahami sebagai keadaan kesadaran yang diwujudkan dalam kehidupan.
2. Apakah Samadhi berarti meninggalkan kehidupan duniawi?
Tidak. Samadhi justru diwujudkan melalui pekerjaan, keluarga, hubungan sosial, keputusan, dan berbagai tanggung jawab kehidupan.
3. Apa hubungan Nawa Samadhi dengan Cipta, Rasa, dan Karsa?
Nawa Samadhi merupakan perjalanan menuju keselarasan ketiganya: Weninging Cipta, Tulusing Rasa, dan Utamaning Karsa.
4. Mengapa perilaku menjadi ukuran penting dalam samadhi?
Karena kesadaran yang benar seharusnya membawa perubahan dalam laku. Kejernihan batin perlu terlihat dalam ucapan, sikap, keputusan, dan tindakan.
5. Apa tujuan Samadhi Sampurna?
Samadhi Sampurna menggambarkan keadaan ketika kehidupan semakin utuh dan selaras dengan Tatananing Panguripan serta Sang Sumber Panguripan.
6. Apa inti Nawa Samadhi Uttamopadesa?
Intinya adalah perjalanan dari keterikatan menuju kejernihan, dari pengetahuan menuju penghayatan, dan dari penghayatan menuju laku kehidupan yang selaras.

Komentar
Posting Komentar
Silahkan berkomentar, jaga tata krama dan kesusilaan, jangan menuliskan link hidup pada kotak komentar. Maaf bilamana terjadi keterlambatan balasan komentar anda