PRINSIP JATI DHIRI

mengenal jati dhiriMengenali Diri sebagai Dasar Pembenahan

Jati Dhiri merupakan prinsip kedua yang mengajak manusia mengenali dirinya secara lebih mendalam. Setelah memahami Sangkaning Panguripan, manusia perlu memahami keberadaan dirinya sendiri: siapa dirinya, bagaimana dirinya terbentuk, apa yang mendorong pikirannya, apa yang memengaruhi perasaannya, dan mengapa ia mengambil keputusan tertentu.

Mengenali diri bukan sekadar mengetahui nama, pekerjaan, kedudukan, latar belakang, atau berbagai identitas yang melekat pada seseorang. Jati diri berkaitan dengan kemampuan melihat diri secara jujur, termasuk mengenali kekuatan, kelemahan, kebiasaan, kecenderungan, dorongan, kepentingan, dan cara berpikir yang selama ini memengaruhi kehidupannya.

Tanpa pengenalan diri yang baik, manusia mudah menganggap segala sesuatu yang ada dalam dirinya sebagai sesuatu yang benar dan tetap.

Padahal, tidak semua keinginan, pendapat, kebiasaan, dan ambisi benar-benar berasal dari dirinya sendiri.

Apa yang Dimaksud dengan mengenali Jati Dhiri?
Mengenal Jati Dhiri berarti mengenali diri sebagaimana adanya, bukan sebagaimana yang ingin ditampilkan kepada orang lain.

Manusia memiliki berbagai gambaran tentang dirinya. Seseorang mungkin menganggap dirinya pintar, baik, sabar, kuat, rendah hati, atau bahkan selalu benar.

Namun, gambaran tersebut belum tentu sesuai dengan kenyataan.

Begitu pula dengan berbagai keinginan yang muncul dalam diri. Seseorang dapat menginginkan kekayaan karena melihat orang lain berhasil. Ia dapat mengejar kedudukan karena ingin memperoleh penghargaan. Ia dapat mempertahankan pendapat tertentu karena sejak kecil terbiasa mendengar pandangan yang sama.

Semua itu dapat terasa sebagai bagian dari diri sendiri.

Padahal, sebagian mungkin terbentuk melalui pengaruh lingkungan dan pengalaman.

Karena itu, mengenali Jati Dhiri membutuhkan keberanian untuk melihat ke dalam diri tanpa membenarkan atau menyalahkan diri secara berlebihan.

Tidak Semua Keinginan Menunjukkan Jati Diri.
Salah satu kesalahan manusia dalam mengenali dirinya adalah menganggap setiap keinginan yang muncul sebagai bagian dari jati dirinya.

Padahal, keinginan dapat muncul dari berbagai sebab.

Keinginan dapat terbentuk oleh kebiasaan.

Dapat pula muncul karena pengaruh keluarga, lingkungan pergaulan, pendidikan, pengalaman masa lalu, keadaan sosial, atau keinginan memperoleh pengakuan dari orang lain.

Misalnya, seseorang sangat ingin memiliki sesuatu karena melihat orang lain memilikinya. Ia kemudian menganggap bahwa benda tersebut memang benar-benar dibutuhkan.

Contoh lain adalah seseorang yang merasa harus memperoleh kedudukan tinggi agar dianggap berhasil. Setelah diperiksa lebih dalam, ternyata dorongan tersebut berasal dari kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan.

Hal semacam ini menunjukkan bahwa manusia perlu memeriksa dorongan yang muncul dalam dirinya.

Pertanyaannya bukan hanya “Apa yang saya inginkan?”, tetapi juga “Mengapa saya menginginkannya?”

Pertanyaan sederhana tersebut dapat membuka pemahaman yang lebih mendalam tentang diri sendiri.

Pengaruh Lingkungan terhadap
Pembentukan Diri.
Manusia tumbuh dalam lingkungan yang memberikan berbagai pengaruh. Keluarga, pendidikan, masyarakat, pergaulan, pengalaman, dan keadaan kehidupan ikut membentuk cara seseorang berpikir dan bertindak.

Pengaruh tersebut tidak selalu buruk. Banyak nilai baik justru diperoleh manusia melalui proses kehidupan bersama orang lain.
Namun, tidak semua pengaruh harus diterima begitu saja.

Seseorang dapat membawa kebiasaan yang sebenarnya tidak sesuai dengan keadaan dirinya. Ia dapat mempertahankan pandangan yang sudah tidak sesuai hanya karena sejak dahulu terbiasa dengan pandangan tersebut.

Oleh karena itu, mengenali Jati Dhiri bukan berarti menolak semua pengaruh dari luar.

Yang diperlukan adalah kemampuan membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang justru membuat diri semakin jauh dari kebaikan.

Manusia perlu memeriksa kembali apa yang telah masuk ke dalam dirinya.

Mengenali Kekuatan dan Kelemahan.
Pengenalan diri juga berarti berani melihat kekuatan dan kelemahan secara seimbang.

Ada manusia yang hanya melihat kelemahannya sehingga kehilangan kepercayaan terhadap kemampuan dirinya.

Sebaliknya, ada pula yang hanya melihat kelebihannya sehingga tidak mampu menerima kekurangan.

Keduanya dapat menghambat pembenahan diri.

Mengenali kekuatan berarti mengetahui kemampuan yang dapat dikembangkan dan digunakan untuk kebaikan.

Mengenali kelemahan berarti mengetahui bagian diri yang masih perlu diperbaiki.

Misalnya, seseorang menyadari bahwa dirinya mampu berpikir cepat, tetapi mudah mengambil keputusan tanpa pertimbangan yang cukup. Ia memiliki keberanian, tetapi terkadang keberanian tersebut berubah menjadi sikap keras kepala.

Pengenalan seperti ini jauh lebih bermanfaat daripada sekadar mengatakan bahwa dirinya baik atau buruk.

Dengan melihat diri secara jujur, seseorang dapat mengetahui bagian mana yang perlu dipertahankan dan bagian mana yang perlu dibenahi.

Jati Dhiri dan Cipta, Rasa, serta Karsa.
Jati Dhiri memiliki hubungan erat dengan cipta, rasa, dan karsa.

Melalui cipta, manusia dapat mengamati pola pikirnya. Ia dapat melihat bagaimana pendapat terbentuk, bagaimana kesimpulan diambil, dan apakah pikirannya dipengaruhi oleh kepentingan tertentu.

Melalui rasa, manusia dapat mengenali berbagai perasaan yang muncul. Ia dapat membedakan antara kepedulian dengan rasa memiliki, antara keberanian dengan kemarahan, atau antara keteguhan dengan keras kepala.

Melalui karsa, manusia dapat melihat dorongan yang menggerakkan tindakannya.

Ia dapat memeriksa apakah tindakan dilakukan karena kesadaran dan pertimbangan yang baik atau karena dorongan sesaat, tekanan lingkungan, dan kepentingan pribadi.

Dengan demikian, pengenalan Jati Dhiri bukan hanya melihat siapa diri kita, tetapi juga melihat bagaimana cipta, rasa, dan karsa bekerja dalam diri kita.

Berani Melihat Diri Apa Adanya.
Mengenali diri membutuhkan kejujuran.
Manusia sering lebih mudah melihat kesalahan orang lain daripada kesalahannya sendiri. Ketika mengalami kegagalan, ia dapat dengan cepat mencari penyebab di luar dirinya.

Keadaan, orang lain, lingkungan, atau berbagai peristiwa sering dijadikan alasan.

Bukan berarti keadaan luar tidak pernah menjadi penyebab masalah. Namun, manusia perlu melihat apakah dirinya juga memiliki bagian dalam persoalan tersebut.

Misalnya, ketika terjadi pertengkaran, seseorang mungkin langsung mengatakan bahwa orang lainlah yang memulai. Akan tetapi, ia juga perlu melihat bagaimana sikap dan ucapannya sendiri ikut memengaruhi keadaan.

Kejujuran seperti inilah yang diperlukan dalam mengenali Jati Dhiri.

Tujuannya bukan untuk menyalahkan diri sendiri, melainkan agar manusia mampu melihat kenyataan dengan lebih utuh.

Mengenali Dorongan di Balik Tindakan.
Setiap tindakan biasanya memiliki dorongan.
Dua orang dapat melakukan tindakan yang sama, tetapi memiliki dorongan yang berbeda.

Seseorang membantu orang lain karena benar-benar ingin memberikan manfaat. Orang lain mungkin melakukan hal yang sama karena ingin dipuji.

Secara lahiriah tindakannya terlihat serupa, tetapi dorongan di dalam dirinya berbeda.

Karena itu, Jati Dhiri mengajak manusia tidak hanya memperhatikan apa yang dilakukan, tetapi juga memeriksa alasan di balik tindakan tersebut.

Pertanyaan seperti “Apa yang sebenarnya saya cari?”, “Apakah saya melakukan ini demi kebaikan atau demi pengakuan?”, dan “Apakah keputusan ini lahir dari pertimbangan yang jernih?” dapat membantu manusia mengenali dirinya.

Semakin sering seseorang memeriksa dorongannya, semakin mudah ia melihat pola yang selama ini mengendalikan perilakunya.

Dari Pengenalan Diri Menuju Pembenahan.
Pengenalan diri bukan tujuan akhir.
Nilai penting dari Jati Dhiri terletak pada kemampuannya menjadi dasar bagi pembenahan diri.

Setelah mengetahui bahwa dirinya mudah marah, ia dapat belajar mengendalikan kemarahan.

Setelah mengetahui bahwa dirinya mudah dipengaruhi pendapat orang lain, ia dapat belajar mempertimbangkan sesuatu dengan lebih mandiri.

Setelah menyadari bahwa ambisinya sering didorong oleh keinginan memperoleh pengakuan, ia dapat memeriksa kembali tujuan yang ingin dicapainya.

Dengan demikian, pengenalan diri menghasilkan perubahan nyata dalam laku.

Tanpa pengenalan diri, manusia sulit mengetahui apa yang harus dibenahi. Ia mungkin terus mengulangi kesalahan yang sama karena tidak menyadari sumbernya.

Sebaliknya, ketika seseorang mampu melihat dirinya dengan jujur, pembenahan dapat dilakukan dengan lebih terarah.

Tidak Menyalahkan Keadaan dan Orang Lain.
Salah satu buah penting dari mengenal Jati Dhiri adalah berkurangnya kecenderungan menyalahkan orang lain.

Manusia tetap perlu mengenali kesalahan dan ketidakadilan yang dilakukan pihak lain.

Namun, ia juga perlu bertanya tentang bagian dirinya sendiri.

Apa yang dapat diperbaiki?
Apa yang dapat dipelajari?
Apakah ada kebiasaan atau dorongan dalam diri yang ikut menyebabkan persoalan?

Sikap seperti ini membuat manusia lebih bertanggung jawab terhadap kehidupannya sendiri.

Ia tidak lagi hanya menjadi penonton yang menilai kesalahan di luar dirinya, tetapi mulai menjadi pelaku yang bersedia membenahi dirinya.

Mengenal Jati Dhiri sebagai Dasar Laku
Mengenal Jati Dhiri mengajarkan bahwa pembenahan kehidupan harus dimulai dari kemampuan mengenali diri.

Manusia perlu mengetahui apa yang ada dalam dirinya sebelum berusaha mengubahnya. Ia perlu melihat bagaimana cipta berpikir, bagaimana rasa bereaksi, dan bagaimana karsa mendorong tindakan.

Dari sana, manusia dapat mulai membedakan antara dorongan yang perlu dipelihara dan dorongan yang perlu dibenahi.

Jati Dhiri juga mengajarkan kejujuran terhadap diri sendiri. Bukan untuk mencari-cari kekurangan, melainkan untuk melihat kenyataan sebagaimana adanya.

Setelah memahami Sangkaning Panguripan sebagai dasar keberadaan kehidupan, manusia kemudian perlu memahami dirinya sebagai bagian dari kehidupan tersebut.

Mengenali Jati Dhiri berarti mengetahui diri secara lebih jujur agar dapat menjalani kehidupan dengan lebih tepat.

Sebab, perubahan yang sungguh-sungguh tidak dimulai dari keinginan untuk mengubah orang lain, melainkan dari keberanian untuk melihat dan membenahi diri sendiri.

FAQ - Prinsip Mengenal Jati Dhiri.
1. Apa yang dimaksud dengan Jati Dhiri?
Jati Dhiri adalah proses mengenali diri secara lebih mendalam, termasuk memahami kekuatan, kelemahan, kebiasaan, dorongan, kepentingan, dan pengaruh yang membentuk diri.

2. Apakah semua keinginan merupakan bagian dari jati diri?
Tidak. Keinginan dapat terbentuk dari lingkungan, pengalaman, kebiasaan, kepentingan, dan keinginan memperoleh pengakuan. Karena itu, setiap keinginan perlu diperiksa asal dan dorongannya.

3. Mengapa mengenali diri itu penting?
Karena manusia sulit membenahi sesuatu yang tidak dikenalnya. Dengan mengenali diri, seseorang dapat melihat kelemahan dan kekuatannya secara lebih jujur sehingga pembenahan dapat dilakukan dengan lebih tepat.

4. Apa hubungan Jati Dhiri dengan cipta, rasa, dan karsa?
Jati Dhiri membantu manusia mengenali bagaimana cipta membentuk pikiran, rasa menanggapi pengalaman, dan karsa mendorong tindakan. Ketiganya perlu diamati agar manusia memahami dirinya secara utuh.

5. Apakah mengenali kelemahan berarti merendahkan diri?
Tidak. Mengenali kelemahan bukan berarti merendahkan diri. Justru dengan mengetahui kelemahan, manusia memiliki kesempatan untuk memperbaikinya.

6. Bagaimana cara mengenali Jati Dhiri?
Salah satunya dengan mengamati pikiran, perasaan, kebiasaan, keinginan, dan tindakan secara jujur. Tanyakan pula alasan di balik setiap dorongan dan keputusan yang diambil.

7. Mengapa manusia sering menyalahkan keadaan atau orang lain?
Karena melihat kesalahan diri sendiri membutuhkan kejujuran dan keberanian. Menyalahkan pihak luar sering kali terasa lebih mudah daripada memeriksa peran diri sendiri dalam suatu persoalan.

8. Apa tujuan akhir mengenali Jati Dhiri?
Tujuannya adalah pembenahan diri. Dengan mengenali diri, manusia dapat memperbaiki cipta, rasa, dan karsa sehingga tindakannya menjadi lebih tepat dan bermanfaat dalam kehidupan.

**Sumber artikel :
9 PRINSIP DASAR KAWRUH SEJATI.  

Komentar