Nawa Tatananing Kawruh Uttamopadesa, Menata Pengetahuan agar Menjadi Pedoman Hidup
Pengetahuan sering kali dipahami sebagai sesuatu yang cukup diketahui oleh pikiran. Seseorang membaca banyak buku, memahami berbagai ajaran, mampu menjelaskan suatu gagasan dengan baik, lalu merasa bahwa dirinya telah memperoleh pengetahuan yang diperlukan.
Namun dalam pandangan Uttamopadesa, pengetahuan tidak hanya berhenti pada kemampuan memahami dan menjelaskan.
Pengetahuan mempunyai tujuan yang lebih dalam, yaitu menuntun manusia mengenali kehidupan sebagaimana adanya dan kemudian mengubah pemahaman tersebut menjadi laku nyata.
Di sinilah Nawa Tatananing Kawruh Uttamopadesa mempunyai kedudukan penting. Nawa Tataning Kawruh dapat dipahami sebagai tatanan yang membantu manusia melihat bagaimana kawruh seharusnya dipahami, dihayati, dan dijalankan dalam kehidupan.
Kawruh tidak dibiarkan menjadi kumpulan gagasan yang berdiri sendiri, melainkan ditata supaya mempunyai arah dan hubungan yang jelas.
Kata nawa menunjuk pada sembilan, sedangkan tatananing kawruh menunjuk pada penataan kawruh. Dengan demikian, Nawa Tatananing Kawruh Uttamopadesa bukan sekadar kumpulan sembilan istilah yang harus dihafalkan.
Yang lebih utama adalah memahami hubungan antartatanan tersebut sebagai bagian dari perjalanan manusia dalam mengembangkan kawruh dan menghidupkannya melalui laku.
Kawruh Tidak Cukup Hanya Diketahui.
Salah satu persoalan manusia adalah kecenderungan mengumpulkan pengetahuan tanpa mengubah kehidupan.
Seseorang dapat mengetahui bahwa kejujuran itu penting, tetapi pengetahuan tersebut belum tentu membuat dirinya menjadi jujur.
Seseorang dapat memahami pentingnya kasih, tetapi belum tentu mampu memperlakukan orang lain dengan kasih.
Seseorang dapat mengetahui bahwa pengendalian diri diperlukan, tetapi belum tentu mampu mengendalikan ucapan dan tindakannya ketika menghadapi persoalan.
Keadaan tersebut menunjukkan adanya jarak antara mengetahui dan menghidupi pengetahuan.
Uttamopadesa menempatkan jarak tersebut sebagai sesuatu yang perlu diperhatikan. Kawruh yang sejati bukan hanya kawruh yang dapat diterangkan, melainkan kawruh yang semakin terlihat dalam perubahan hidup seseorang. Oleh karena itu, penataan kawruh diperlukan agar manusia tidak berhenti pada pengetahuan yang berada di luar dirinya.
Nawa Tatananing Kawruh Uttamopadesa memberikan kerangka untuk memahami bahwa kawruh mempunyai arah. Ia tidak semestinya menjadi beban pikiran, perdebatan, atau sekadar bahan pembicaraan.
Kawruh seharusnya membantu manusia semakin mampu melihat dirinya sendiri, memahami kehidupan, membersihkan cipta, menata rasa, mengarahkan karsa, dan memperbaiki laku.
Hubungan antara Kawruh dan Diri.
Pengetahuan yang benar seharusnya membawa manusia semakin mampu melihat dirinya. Semakin banyak seseorang memahami kehidupan, semakin besar pula tuntutan untuk memeriksa dirinya sendiri.
Hal ini penting karena manusia mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi sulit melihat kekeliruan yang terdapat dalam dirinya. Pengetahuan dapat berubah menjadi kebanggaan apabila tidak disertai kemampuan untuk mengoreksi diri.
Karena itu, Nawa Tatananing Kawruh Uttamopadesa tidak dapat dipisahkan dari upaya memahami diri.
Kawruh menjadi jalan untuk melihat bagaimana pikiran bekerja, bagaimana rasa bergerak, bagaimana kehendak muncul, dan bagaimana semuanya kemudian diwujudkan dalam tindakan.
Pada titik ini, kawruh tidak lagi hanya berbicara tentang apa yang benar secara teori, tetapi juga tentang bagaimana kebenaran tersebut hidup dalam diri manusia.
Kawruh Sejati dan Tatanan Kawruh.
Dalam Uttamopadesa, Kawruh Sejati mempunyai kedudukan penting sebagai pengetahuan yang mengarah kepada kasunyatan. Namun manusia tidak serta-merta mampu memahami segala sesuatu secara sempurna.
Karena itu, diperlukan proses untuk menata pemahaman, menguji pengertian, dan melihat apakah pengetahuan tersebut benar-benar memberikan perubahan dalam kehidupan.
Nawa Tatananing Kawruh Uttamopadesa dapat menjadi salah satu cara untuk memahami proses tersebut.
Kawruh Sejati tidak dimaksudkan sebagai sesuatu yang hanya dikumpulkan sebagai pengetahuan. Ia harus menjadi penerang dalam menjalani kehidupan.
Ketika kawruh mulai mempengaruhi cara berpikir, cara merasa, cara menentukan kehendak, dan cara bertindak, maka pengetahuan tersebut mulai memperoleh tempat yang nyata dalam kehidupan.
Dengan demikian, Nawa Tatananing Kawruh Uttamopadesa bukan sesuatu yang terpisah dari Kawruh Sejati. Ia justru membantu manusia memahami bagaimana kawruh ditata supaya tidak tercerai-berai dan tidak kehilangan arah.
Dari Kawruh Menuju Laku.
Ukuran penting dari pengetahuan bukan hanya seberapa banyak yang dapat diingat, tetapi seberapa jauh pengetahuan tersebut mengubah kehidupan.
Jika seseorang telah memahami kejujuran, maka kejujuran itu seharusnya semakin tampak dalam perkataan dan perbuatannya.
Jika telah memahami kasih, maka sikap terhadap sesama seharusnya semakin baik.
Jika telah memahami pengendalian diri, maka ia semakin mampu menahan dorongan yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Perubahan seperti itu menunjukkan bahwa kawruh mulai menjadi laku.
Inilah sebabnya Nawa Tatananing Kawruh Uttamopadesa perlu dipahami sebagai tatanan yang hidup. Pengetahuan tidak berhenti pada kepala. Pengetahuan harus bergerak menuju cipta, rasa, budi, karsa, dan akhirnya terlihat dalam kehidupan sehari-hari.
Pengetahuan yang Menjadi Pedoman.
Manusia membutuhkan pengetahuan bukan semata-mata agar dapat berbicara lebih banyak, melainkan agar dapat hidup dengan lebih benar. Pengetahuan yang baik membantu seseorang membedakan mana yang patut dilakukan dan mana yang perlu ditinggalkan.
Kawruh yang demikian akan menjadi pedoman. Ia bekerja dalam kehidupan sehari-hari ketika manusia menghadapi pilihan, menghadapi perbedaan, menerima keberhasilan, menghadapi kegagalan, atau berhadapan dengan orang lain yang tidak sejalan dengannya.
Dalam keadaan seperti itu, pengetahuan yang benar tidak perlu selalu diucapkan. Ia justru tampak melalui sikap.
Karena itu, seseorang tidak perlu sibuk menunjukkan bahwa dirinya memiliki kawruh. Jika kawruh tersebut benar-benar telah dihayati, perubahan pada dirinya akan terlihat melalui laku.
Nawa Tatananing Kawruh Uttamopadesa sebagai Jalan Penataan Diri.
Pada akhirnya, Nawa Tatananing Kawruh Uttamopadesa dapat dipahami sebagai bagian dari upaya menata kehidupan melalui kawruh. Penataan tersebut bukan hanya mengenai bagaimana pengetahuan disusun, tetapi juga bagaimana manusia menempatkan pengetahuan dalam kehidupannya.
Kawruh yang tidak ditata mudah menjadi kumpulan gagasan. Kawruh yang ditata dapat menjadi pedoman. Kawruh yang dihayati dapat menjadi watak. Kawruh yang diwujudkan dalam laku dapat menjadi bagian dari kehidupan.
Karena itu, mempelajari Nawa Tatananing Kawruh bukan semata-mata mempelajari sembilan tatanan pengetahuan. Yang lebih penting adalah memahami arah keseluruhannya: bagaimana manusia bergerak dari mengetahui menuju memahami, dari memahami menuju menghayati, dan dari menghayati menuju menjalani.
Dengan demikian, kawruh tidak lagi menjadi sesuatu yang hanya berada dalam pikiran. Kawruh mulai hidup dalam diri dan terlihat dalam laku.
FAQ Nawa Tatananing Kawruh Uttamopadesa.
Apa itu Nawa Tatananing Kawruh Uttamopadesa?
Nawa Tatananing Kawruh Uttamopadesa adalah tatanan sembilan bagian kawruh yang membantu manusia memahami, menata, dan menghidupkan pengetahuan agar tidak berhenti sebagai gagasan.
Apakah Nawa Tatananing Kawruh hanya perlu dihafalkan?
Tidak. Yang lebih penting adalah memahami hubungan setiap tatanan dan melihat bagaimana kawruh tersebut dapat diwujudkan dalam kehidupan.
Apa hubungan Nawa Tatananing Kawruh dengan Kawruh Sejati?
Nawa Tatananing Kawruh membantu menata pemahaman agar Kawruh Sejati tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi dapat menjadi pedoman dan laku.
Apa tanda bahwa kawruh mulai menjadi laku?
Tandanya terlihat melalui perubahan sikap dan perilaku, seperti semakin jujur, mampu mengendalikan diri, memiliki kasih, dan bertindak dengan pertimbangan yang baik.
Mengapa pengetahuan perlu ditata?
Karena pengetahuan yang tidak tertata mudah menjadi kumpulan gagasan yang terpisah-pisah. Penataan membantu manusia melihat arah dan hubungan antara pengetahuan dengan kehidupan.
Apakah Nawa Tatananing Kawruh berkaitan dengan Uttamopadesa?
Ya. Nawa Tatananing Kawruh merupakan bagian dari kerangka pemahaman dalam Uttamopadesa yang menempatkan kawruh sebagai tuntunan untuk memperbaiki kehidupan dan laku manusia.

Komentar
Posting Komentar
Silahkan berkomentar, jaga tata krama dan kesusilaan, jangan menuliskan link hidup pada kotak komentar. Maaf bilamana terjadi keterlambatan balasan komentar anda