HAKIKAT NAWA SEMBAH UTTAMOPADESA

nawa sembah uttamopadesa
Nawa Sembah Uttamopadesa adalah pola sembah ciptaan Dhimas Purnomo dalam kerangka pemikiran Kawruh Uttamopadesa.

Pola ini terdiri atas sembilan tataran pangabekti yang menggambarkan perkembangan manusia dalam menata kehidupan, mulai dari raga, cipta, rasa, karsa, budi, sukma, kawruh, jatining dhiri, hingga tercapainya keselarasan hidup dengan Hyang Manon.

Nawa Sembah Uttamopadesa tidak menempatkan sembah semata-mata sebagai kegiatan lahiriah atau ritual. Sembah dipahami sebagai pangabekti yang diwujudkan melalui penataan diri dan laku kehidupan.

Karena itu, kedalaman sembah tidak hanya dapat dilihat dari bentuk lahir, tetapi terutama dari perubahan cara berpikir, merasakan, berkehendak, mengambil keputusan, bertindak, dan menjalani kehidupan.

Pola ini merupakan bagian dari bangunan pemikiran Kawruh Uttamopadesa. Istilah, susunan sembilan tataran, hubungan antartataran, serta pemaknaan sembah sebagai pangabekti merupakan bagian dari perumusan tersebut.

Hakikat Sembah dalam Uttamopadesa.
Dalam Nawa Sembah Uttamopadesa, sembah berarti pangabekti. Pangabekti bukan sekadar ucapan penghormatan, melainkan sikap hidup yang diwujudkan melalui kesungguhan menata diri dan menjalankan kehidupan dengan benar.

Dengan demikian, seseorang tidak cukup hanya menyatakan dirinya berbakti. Pangabekti perlu terlihat dalam kehidupan nyata.

Sembah Raga tampak dalam tindakan.

Sembah Cipta tampak dalam kejernihan pikiran.

Sembah Rasa tampak dalam ketulusan dan welas asih.

Sembah Karsa tampak dalam kehendak yang terarah kepada kebaikan.

Sembah Budi tampak dalam kemampuan mempertimbangkan benar dan keliru.

Sembah Sukma tampak dalam keselarasan kehidupan batin.

Sembah Kawruh tampak dalam kesungguhan memahami kehidupan.

Sembah Jati tampak dalam pemahaman tentang jatining dhiri.

Sedangkan Sembah Manunggal tampak dalam keselarasan seluruh kehidupan dengan karsaning Hyang Manon.

Oleh sebab itu, pola sembah tidak berhenti pada hubungan manusia dengan sesuatu yang disembah. Sembah juga merupakan proses menata manusia agar kehidupannya menjadi semakin selaras.

Sembilan Tataran Nawa Sembah Uttamopadesa.

1. Sembah Raga.
Sembah Raga merupakan tataran pertama. Raga adalah wahana kehidupan manusia sehingga perlu dijaga kebersihan, kesehatan, keteraturan, dan penggunaannya.

Pangabekti mulai diwujudkan melalui tindakan nyata. Raga tidak hanya dipandang sebagai tubuh yang harus dipelihara, tetapi sebagai sarana untuk melakukan perbuatan yang baik dan bermanfaat.

Karena itu, Sembah Raga menjadi dasar bagi tataran berikutnya. Pemahaman yang tinggi tidak akan mempunyai makna apabila tidak diwujudkan dalam tindakan kehidupan.

2. Sembah Cipta.
Sembah Cipta merupakan penataan cipta agar mampu melihat dan mempertimbangkan sesuatu secara lebih jernih.

Cipta perlu dibersihkan dari kesombongan, prasangka, iri hati, kebencian, dan pikiran yang menyimpang dari kenyataan. Penataan ini bukan berarti menghilangkan kemampuan berpikir, melainkan menggunakannya secara tepat.

Cipta yang wening membantu manusia melihat persoalan dengan lebih jernih sebelum menentukan sikap dan tindakan. Karena itu, Sembah Cipta menjadi dasar penting bagi perkembangan rasa, karsa, dan budi.

3. Sembah Rasa
Sembah Rasa merupakan penjernihan rasa atau pangraos. Rasa diarahkan agar tidak dikuasai kebencian, keakuan, maupun kepentingan pribadi.

Rasa yang tertata memungkinkan manusia memiliki kepekaan terhadap keadaan sesama dan kehidupan. Dari sini tumbuh ketulusan, welas asih, empati, dan kemampuan menghargai keberadaan orang lain.

Sembah Rasa bukan berarti mengikuti semua perasaan. Justru rasa perlu dijernihkan agar tidak menjadi sumber tindakan yang merugikan.

4. Sembah Karsa
Sembah Karsa merupakan penataan kehendak dan dorongan dalam diri.

Manusia memiliki keinginan, tujuan, dan dorongan untuk melakukan berbagai hal. Namun, tidak setiap keinginan harus diwujudkan. Karsa perlu diarahkan agar tidak semata-mata mengejar kepentingan diri. Karsa yang tertata menjadi kekuatan untuk mewujudkan kebaikan.

Dengan demikian, kehendak tidak hanya menjadi dorongan pribadi, tetapi menjadi daya untuk menjalankan kehidupan secara bertanggung jawab.

5. Sembah Budi
Sembah Budi merupakan pengembangan daya pertimbangan.

Budi berperan dalam menimbang berbagai kemungkinan sebelum manusia mengambil keputusan. Melalui budi, seseorang belajar membedakan yang benar dan keliru, yang utama dan tidak utama, serta mempertimbangkan akibat dari setiap tindakan.

Sembah Budi mempertemukan kejernihan cipta, ketulusan rasa, dan arah karsa. Karena itu, budi tidak hanya berkaitan dengan kecerdasan, tetapi dengan kemampuan menggunakan pertimbangan secara bijaksana.

6. Sembah Sukma.
Sembah Sukma merupakan tataran keselarasan kehidupan cipta, rasa, dan karsa.

Pada tahap ini, ketiganya tidak lagi berjalan saling bertentangan. Cipta memberikan kejernihan, rasa memberikan kepekaan, sedangkan karsa memberikan arah tindakan.

Keselarasan tersebut membentuk kehidupan yang lebih wening, tenteram, kukuh, dan tulus. Sembah Sukma dengan demikian bukan pemujaan terhadap sukma, melainkan penataan kehidupan yang semakin selaras pada kedalaman diri.

7. Sembah Kawruh.
Sembah Kawruh merupakan pendalaman pemahaman tentang kehidupan.

Kawruh tidak cukup dipahami sebagai kumpulan informasi atau pengetahuan yang dihafalkan. Kawruh perlu dipahami, diteliti melalui paniten, direnungkan, diuji dalam kehidupan, dan diwujudkan dalam laku.

Pada tataran ini, manusia tidak hanya bertanya tentang apa yang diketahui, tetapi juga berusaha memahami kenyataan, memahami dirinya, serta memahami hubungan antara dirinya dan kehidupan.

Karena itu, Sembah Kawruh menjadi jembatan dari penataan diri menuju pemahaman yang lebih dalam tentang jatining dhiri.

8. Sembah Jati.
Sembah Jati merupakan pendalaman pemahaman mengenai jatining dhiri dan kedudukan manusia dalam panguripan yang bersumber dari Hyang Manon.

Pemahaman tentang jatining dhiri tidak berhenti sebagai gagasan. Ia harus tercermin dalam perubahan watak dan laku.

Semakin dalam seseorang memahami dirinya, semakin besar tuntutan untuk hidup secara selaras dengan apa yang telah dipahaminya. Dengan demikian, kawruh memperoleh makna melalui perubahan kehidupan.

9. Sembah Manunggal.
Sembah Manunggal merupakan puncak Nawa Sembah Uttamopadesa.

Manunggal di sini tidak berarti manusia menjadi satu hakikat dengan Hyang Manon. Maknanya adalah tercapainya keselarasan kehidupan manusia dengan karsaning Hyang Manon.

Keselarasan tersebut mencakup cipta, rasa, karsa, budi, sukma, kawruh, dan cetana yang diwujudkan dalam laku kehidupan.

Dengan demikian, Manunggal bukan peleburan hakikat, melainkan keadaan ketika kehidupan manusia semakin selaras dengan sumber kehidupan dan tidak lagi menjadikan kehendak pribadi sebagai satu-satunya ukuran dalam menjalani kehidupan.

Nawa Sembah Uttamopadesa sebagai Perjalanan Berjenjang
Sembilan tataran tersebut bukan sembilan bagian yang berdiri sendiri. Nawa Sembah Uttamopadesa mempunyai arah perkembangan yang berjenjang.

Perjalanan dimulai dari sesuatu yang paling nyata, yaitu raga dan tindakan. Dari raga manusia menata cipta, kemudian menjernihkan rasa, mengarahkan karsa, mengembangkan budi, menyelaraskan kehidupan sukma, memperdalam kawruh, memahami jatining dhiri, hingga mencapai keselarasan dalam Sembah Manunggal.

Urutan ini menunjukkan bahwa perubahan kehidupan tidak cukup dilakukan pada satu sisi saja. Pikiran yang baik perlu didukung rasa yang tulus. Rasa yang tulus perlu diarahkan oleh karsa. Karsa perlu dipertimbangkan oleh budi. Semua itu perlu diperdalam melalui kawruh dan diwujudkan dalam laku.

Dengan demikian, Nawa Sembah Uttamopadesa merupakan pola perkembangan manusia secara menyeluruh.

Nawa Sembah Uttamopadesa Bukan Nawa Widha Bhakti.
Nawa Sembah Uttamopadesa bukan Nawa Widha Bhakti, bukan terjemahan Nawa Widha Bhakti, dan tidak dirumuskan sebagai turunan dari Nawa Widha Bhakti.

Keduanya merupakan konsep yang berbeda meskipun sama-sama menggunakan jumlah sembilan dan sama-sama berkaitan dengan pengertian bakti atau sembah.

Nawa Sembah Uttamopadesa adalah pola sembah ciptaan Dhimas Purnomo dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa. Sembilan tatarannya adalah Sembah Raga, Sembah Cipta, Sembah Rasa, Sembah Karsa, Sembah Budi, Sembah Sukma, Sembah Kawruh, Sembah Jati, dan Sembah Manunggal.

Sementara itu, Nawa Widha Bhakti merupakan konsep sembilan bentuk bhakti dalam tradisi Hindu, yang dikenal melalui Srawanam, Kirtanam, Smaranam, Pada Sewanam, Arcanam, Wandanam, Dasyam, Sakhyam, dan Atmanivedanam.

Kesamaan jumlah tidak berarti kesamaan konsep. Identitas suatu konsep ditentukan oleh rumusan, susunan, makna, hubungan antarbagiannya, tujuan, dan kerangka pemikiran tempat konsep tersebut dirumuskan.

Kedudukan Ritual dalam Nawa Sembah Uttamopadesa.
Nawa Sembah Uttamopadesa tidak menjadikan ritual sebagai inti sembah.

Titik tekan utamanya adalah pangabekti yang diwujudkan dalam laku kehidupan.

Seseorang dapat melakukan tindakan lahiriah yang tampak baik, tetapi apabila cipta, rasa, dan karsanya masih dikuasai kepentingan diri, maka pangabekti belum sepenuhnya tercermin dalam kehidupannya.

Sebaliknya, pangabekti perlu terlihat dalam cara seseorang memperlakukan sesama, menjaga kehidupan, menggunakan pikirannya, mengendalikan kehendaknya, mengambil keputusan, serta menjalankan tanggung jawabnya.

Karena itu, ukuran utama Nawa Sembah Uttamopadesa bukan banyaknya bentuk sembah yang dilakukan, melainkan seberapa jauh sembah tersebut mengubah kehidupan menjadi lebih wening, tulus, utama, dan selaras.

Rumusan Baku Nawa Sembah Uttamopadesa.
Rumusan baku yang dapat digunakan untuk menjelaskan konsep ini adalah:

Nawa Sembah Uttamopadesa adalah pola sembah ciptaan Dhimas Purnomo dalam kerangka Uttamopadesa yang terdiri atas sembilan tataran pangabekti, yaitu Sembah Raga, Sembah Cipta, Sembah Rasa, Sembah Karsa, Sembah Budi, Sembah Sukma, Sembah Kawruh, Sembah Jati, dan Sembah Manunggal.

Pola tersebut menggambarkan perkembangan manusia dalam menata kehidupan secara bertahap, mulai dari raga, cipta, rasa, karsa, budi, sukma, kawruh, hingga pemahaman jatining dhiri dan keselarasan dengan Hyang Manon.

Dengan rumusan tersebut, identitas Nawa Sembah Uttamopadesa menjadi jelas: penciptanya adalah Dhimas Purnomo, kerangkanya adalah Kawruh Uttamopadesa, sedangkan isinya adalah sembilan tataran pangabekti dalam laku kehidupan.

Kesamaan angka sembilan dengan konsep lain tidak mengubah identitas Nawa Sembah Uttamopadesa. Yang menjadi dasar identitasnya adalah keseluruhan rumusan dan bangunan pemikirannya.

FAQ tentang Nawa Sembah Uttamopadesa.

1. Apa itu Nawa Sembah Uttamopadesa?
Nawa Sembah Uttamopadesa adalah pola sembah ciptaan Dhimas Purnomo dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa yang terdiri atas sembilan tataran pangabekti.

2. Apa saja sembilan tataran Nawa Sembah Uttamopadesa?
Sembilan tatarannya adalah Sembah Raga, Sembah Cipta, Sembah Rasa, Sembah Karsa, Sembah Budi, Sembah Sukma, Sembah Kawruh, Sembah Jati, dan Sembah Manunggal.

3. Apakah Nawa Sembah Uttamopadesa sama dengan Nawa Widha Bhakti?
Tidak Sama. Nawa Sembah Uttamopadesa dan Nawa Widha Bhakti merupakan dua konsep yang berbeda, baik dalam susunan, makna, maupun kerangka pemikirannya.

4. Apakah Nawa Sembah Uttamopadesa merupakan ritual?
BUKAN. Sembah dalam Nawa Sembah Uttamopadesa dimaknai sebagai pangabekti yang diwujudkan melalui penataan diri dan laku kehidupan.

5. Apa makna Manunggal dalam Nawa Sembah Uttamopadesa?
Manunggal berarti tercapainya keselarasan kehidupan manusia dengan karsaning Hyang Manon, bukan peleburan manusia menjadi satu hakikat dengan Hyang Manon.

6. Siapa pencipta Nawa Sembah Uttamopadesa?
Nawa Sembah Uttamopadesa merupakan pola sembah yang dirumuskan dan diciptakan oleh Dhimas Purnomo dalam kerangka pemikiran Uttamopadesa.

7. Mengapa Nawa Sembah disebut berjenjang?
Karena setiap tataran menjadi bagian dari perkembangan menuju tataran berikutnya, dari penataan raga hingga tercapainya keselarasan dalam Sembah Manunggal.

8. Apa tujuan utama Nawa Sembah Uttamopadesa?
Tujuan utamanya adalah menata kehidupan manusia secara menyeluruh agar cipta, rasa, karsa, budi, sukma, kawruh, dan jatining dhiri berkembang secara selaras serta diwujudkan dalam laku kehidupan.

Komentar