Dalam Kawruh Uttamopadesa yang disusun oleh Dhimas Purnomo, cipta memiliki kedudukan penting dalam perjalanan manusia memahami kehidupan. Cipta bukan hanya kemampuan berpikir, tetapi bagian dari proses manusia menerima, mengolah, dan mewujudkan pemahaman.
Karena itu, cipta tidak dapat dilepaskan dari Kesadaran (Cetana), Kawruh Sejati, Kawruh Kasunyatan, rasa, karsa, serta laku kehidupan.
Arah penataan cipta adalah Weninging Cipta. Ketika cipta semakin wening, pemahaman manusia dapat berkembang. Namun kejernihan cipta bukan tujuan yang berdiri sendiri. Ia harus berjalan bersama Tulusing Rasa dan Utamaning Karsa menuju Purnata Jiwana.
Cipta dan Persoalan Pemahaman.
Manusia tidak pernah menerima kehidupan dalam keadaan benar-benar kosong. Setiap pengalaman meninggalkan kesan.
Pengetahuan membentuk cara pandang. Keinginan mempengaruhi pilihan. Ketakutan dapat mengubah penilaian. Kepentingan dapat memengaruhi kesimpulan. Semua hal tersebut dapat membuat cipta menjadi tidak jernih.
Karena itu, memahami cipta berarti memahami terlebih dahulu bahwa apa yang muncul dalam kesadaran manusia belum tentu merupakan gambaran kenyataan yang utuh.
Cipta perlu diperiksa.
1. Cipta Bukan Sekadar Pikiran.
Pikiran dapat mengingat, menghitung, membandingkan, dan menganalisis. Akan tetapi, cipta memiliki cakupan yang lebih dalam karena berkaitan dengan pemahaman.
Informasi yang banyak tidak selalu menghasilkan pemahaman yang benar. Manusia dapat mengetahui banyak hal tetapi masih melihat kehidupan melalui prasangka.
Dalam Uttamopadesa, cipta diarahkan agar tidak berhenti pada pengetahuan. Cipta perlu berkembang menjadi pemahaman yang semakin jernih.
2. Cipta Berkaitan dengan Kesadaran.
Kesadaran atau Cetana memungkinkan manusia menyadari proses yang berlangsung dalam dirinya.
Manusia dapat mengetahui bahwa dirinya sedang berpikir, mengingat, mempertimbangkan, atau mengambil keputusan.
Kesadaran tersebut menjadi dasar penting bagi penataan cipta.
Tanpa kesadaran, manusia mudah mengikuti kebiasaan. Dengan kesadaran, ia dapat melihat proses tersebut sebelum menjadikannya dasar tindakan.
3. Wening sebagai Proses Penjernihan
Weninging Cipta tidak berarti berhenti berpikir.
Wening berarti cipta semakin bebas dari kabut yang membuat manusia sulit membedakan kenyataan dengan prasangka.
Cipta yang wening tidak berarti tidak memiliki pendapat. Justru cipta yang wening mampu memeriksa pendapatnya sendiri.
Ia dapat mengatakan: ini yang saya ketahui, ini yang saya pahami, ini yang saya duga, dan ini yang belum saya ketahui. Kemampuan tersebut merupakan bagian penting dari kejernihan.
4. Kemampuan Membedakan.
Cipta yang wening harus memiliki kemampuan membedakan.
Manusia perlu membedakan pengalaman dengan kenyataan, pendapat dengan fakta, kebutuhan dengan keinginan, serta pemahaman dengan dugaan.
Tanpa kemampuan membedakan, manusia mudah menjadikan pengalaman pribadi sebagai ukuran mutlak.
Padahal pengalaman seseorang tidak selalu mewakili seluruh kenyataan. Karena itu, membedakan menjadi bagian dari perjalanan menuju cipta yang semakin jernih.
5. Hubungan Cipta dan Rasa.
Cipta tidak hidup terpisah dari rasa.
Rasa duniawi dapat menghadirkan kesan suka, tidak suka, nyaman, tidak nyaman, menyenangkan, maupun menyakitkan. Semua itu merupakan bagian dari pengalaman manusia.
Namun cipta tidak boleh kehilangan kejernihan hanya karena dipengaruhi rasa.
Sesuatu tidak otomatis benar karena menyenangkan, dan tidak otomatis salah karena menyakitkan.
Karena itu, Weninging Cipta perlu berjalan bersama Tulusing Rasa.
6. Cipta dan Kawruh Sejati.
Hubungan cipta dengan Kawruh Sejati merupakan bagian penting dalam kerangka Uttamopadesa.
Kawruh Sejati bukan sekadar konsep yang disusun oleh pikiran. Kawruh Sejati dipahami sebagai pepadhang yang menerangi pemahaman manusia.
Cipta berperan dalam menerima dan memahami pepadhang tersebut. Sementara itu, Kawruh Kasunyatan merupakan pemahaman manusia terhadap kasunyatan.
Karena kemampuan manusia memiliki keterbatasan, pemahaman tersebut perlu terus dijernihkan.
Perbedaan antara Kawruh Sejati dan Kawruh Kasunyatan membuat manusia tidak mudah menyamakan pemahamannya sendiri dengan hakikat yang dipahami.
7. Laku sebagai Pengujian.
Kawruh tidak cukup berhenti pada pemahaman. Pemahaman perlu diuji melalui kehidupan.
Inilah sebabnya laku menjadi penting. Cipta yang benar seharusnya memberikan pengaruh terhadap cara manusia menjalani kehidupan.
Jika seseorang memahami ketulusan tetapi masih selalu bertindak berdasarkan kepentingan tersembunyi, terdapat jarak antara pemahaman dan laku.
Jika seseorang memahami kesabaran tetapi belum mampu mengendalikan tindakan tergesa-gesa, proses penataan cipta masih berlangsung.
Dengan demikian, kehidupan menjadi ruang untuk menguji pemahaman.
8. Keselarasan Cipta, Rasa, dan Karsa.
Puncak penataan manusia bukan hanya pada cipta. Cipta perlu bertemu dengan rasa dan karsa.
Cipta memberikan pemahaman. Rasa memberikan ketulusan. Karsa memberikan arah tindakan.
Karena itu, tiga prinsip utama Uttamopadesa dapat dipahami sebagai satu rangkaian:
Weninging Cipta → Tulusing Rasa → Utamaning Karsa.
Cipta yang wening membantu manusia memahami. Rasa yang tulus membantu manusia menghayati. Karsa yang utama membantu manusia mewujudkan pemahaman dalam kehidupan.
Ketiganya saling melengkapi.
9. Dari Weninging Cipta Menuju Purnata Jiwana
Pada akhirnya, kejernihan cipta diarahkan kepada Purnata Jiwana.
Purnata Jiwana bukan sekadar keadaan mengetahui banyak hal. Purnata Jiwana berkaitan dengan kehidupan yang semakin utuh karena cipta, rasa, dan karsa semakin tertata.
Cipta yang wening membantu manusia melihat. Rasa yang tulus membantu manusia menghayati. Karsa yang utama membantu manusia bertindak.
Dengan demikian, cipta tidak berdiri sebagai tujuan intelektual semata. Ia menjadi bagian dari perjalanan manusia menuju kehidupan yang lebih sadar dan selaras.
Memahami cipta berarti memahami bahwa kejernihan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya pengetahuan. Kejernihan tumbuh melalui kesadaran, kemampuan membedakan, keberanian memeriksa pemahaman, serta kesediaan menguji pemahaman tersebut dalam laku.
Dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa, perjalanan tersebut akhirnya kembali kepada satu arah: Weninging Cipta, Tulusing Rasa, dan Utamaning Karsa sebagai keselarasan menuju Purnata Jiwana.
Dengan demikian, cipta yang wening bukanlah cipta yang menjauh dari kehidupan. Cipta yang wening justru menjadi sarana untuk memahami kehidupan dengan lebih jernih, menjalani dengan lebih tulus, dan mewujudkan kehendak melalui laku yang semakin utama.
FAQ - Aspek Cipta dalam Kawruh Uttamopadesa.
1. Apa hubungan Cipta dengan Kawruh Sejati?
Cipta menjadi bagian penting dalam memahami pepadhang Kawruh Sejati. Kawruh Sejati bukan sekadar konsep hasil pemikiran, tetapi dipahami sebagai pepadhang bagi kehidupan.
2. Apa perbedaan Kawruh Sejati dan Kawruh Kasunyatan?
Kawruh Sejati dipahami sebagai pepadhang hakiki, sedangkan Kawruh Kasunyatan merupakan pemahaman manusia terhadap kasunyatan berdasarkan kemampuan kesadarannya.
3. Mengapa Cipta perlu memiliki kemampuan membedakan?
Kemampuan membedakan membantu manusia melihat perbedaan antara kenyataan dan dugaan, fakta dan tafsir, serta pemahaman dan pengalaman pribadi.
4. Apa peran Kesadaran dalam memahami Cipta?
Cetana atau kesadaran memungkinkan manusia menyadari proses yang berlangsung dalam dirinya sehingga cipta dapat diperiksa dan ditata dengan lebih jernih.
5. Mengapa Cipta tidak dapat berdiri sendiri?
Karena kehidupan manusia melibatkan cipta, rasa, dan karsa. Cipta memberikan pemahaman, rasa memberikan penghayatan, dan karsa mewujudkannya dalam tindakan.
6. Apa hubungan Cipta dengan Purnata Jiwana?
Cipta yang semakin wening membantu manusia memahami kehidupan dengan lebih jernih dan mendukung keselarasan cipta, rasa, dan karsa menuju Purnata Jiwana.

Komentar
Posting Komentar
Silahkan berkomentar, jaga tata krama dan kesusilaan, jangan menuliskan link hidup pada kotak komentar. Maaf bilamana terjadi keterlambatan balasan komentar anda