UTTAMOPADESA
PENGERTIAN DAN DASAR FILSAFAT
Pembuka.
Uttamopadesa merupakan nama yang diberikan kepada suatu kerangka pemikiran yang membicarakan kehidupan manusia, jati diri, Kawruh Sejati, kesadaran batin, serta usaha membentuk kehidupan yang lebih baik melalui laku.
Istilah Uttamopadesa dibuat oleh Dhimas Purnomo sebagai manifestasi kawruh kasunyatan sejati. Istilah tersebut sekaligus menjadi nama bagi gagasan yang disusun untuk memahami panguripan, kedudukan manusia di dalam kehidupan, hubungan manusia dengan sumber panguripan, serta proses pembentukan diri menuju kehidupan yang semakin wening dan utama.
Dengan demikian, Uttamopadesa bukanlah nama yang diambil dari sebuah naskah kuno kemudian digunakan kembali pada masa sekarang. Ia juga tidak dimaksudkan sebagai istilah yang berasal dari ajaran Majapahit ataupun bagian dari agama tertentu.
Uttamopadesa merupakan hasil perumusan pemikiran yang dikembangkan dan ditata oleh Dhimas Purnomo. Berbagai gagasan, istilah, konsep, dan serat yang menggunakan nama Uttamopadesa menjadi bagian dari proses penyusunan kerangka pemikiran tersebut.
Penegasan mengenai asal-usul istilah ini penting karena terdapat sejumlah istilah dalam khazanah Nusantara yang memiliki kemiripan bunyi atau bentuk. Kesamaan bentuk kata tidak otomatis berarti memiliki sejarah, sumber, makna, maupun kedudukan yang sama.
Oleh sebab itu, Uttamopadesa perlu dipahami berdasarkan pengertian dan kerangka yang dibangun oleh perumusnya sendiri.
I. Pengertian Uttamopadesa.
Pada dasarnya, Uttamopadesa dapat dipahami sebagai suatu filsafat kawruh yang mengarahkan manusia untuk memahami kehidupan sekaligus membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih utama.
Manusia tidak hanya berhadapan dengan dunia yang berada di luar dirinya. Ia juga mempunyai kehidupan batin yang perlu dikenali dan ditata. Manusia perlu memahami dirinya, mengenali sumber panguripan, menyadari cara kerja kesadarannya, serta mengetahui bagaimana daya batin memengaruhi pikiran, perasaan, kehendak, dan tindakannya.
Dalam pandangan Uttamopadesa, kehidupan tidak hanya berupa kejadian-kejadian yang dapat dilihat secara lahiriah. Di dalam diri manusia terdapat cipta, rasa, dan karsa yang terus berperan dalam menentukan bagaimana seseorang memandang kehidupan, menghayatinya, mengambil keputusan, dan bertindak.
Karena itu, pembentukan diri menjadi salah satu bagian pokok dalam Uttamopadesa.
Cipta perlu dijaga supaya tidak berkembang menjadi pikiran yang keruh.
Rasa perlu diweningkan supaya tidak dikuasai oleh gejolak yang membawa manusia menjauh dari keseimbangan.
Karsa perlu ditata agar kehendak dapat diwujudkan melalui tindakan yang baik dan selaras dengan kehidupan.
Dengan demikian, Uttamopadesa bukan sekadar kawruh yang berhenti pada pemahaman intelektual. Kawruh tersebut harus diteruskan ke dalam penghayatan dan diwujudkan melalui laku.
II. Perumus Uttamopadesa.
Dhimas Purnomo merupakan perumus kawruh Uttamopadesa.
Keterangan ini merupakan bagian penting dari identitas Uttamopadesa. Kerangka tersebut tidak ditempatkan sebagai penemuan kembali sebuah ajaran yang tertulis dalam lontar, kakawin, kitab kuno, ataupun peninggalan sejarah tertentu.
Uttamopadesa berkembang melalui proses penyusunan gagasan, pemilihan istilah, pengembangan konsep, serta penulisan berbagai serat yang kemudian membentuk satu kesatuan kerangka pemikiran dan filsafat.
Karena disusun pada masa kini, Uttamopadesa dapat dipahami sebagai suatu sistem pemikiran yang dirumuskan secara sadar dengan mengembangkan berbagai pemahaman tentang manusia dan kehidupan ke dalam hubungan antarkonsep yang teratur.
Berbagai karya yang menggunakan nama Uttamopadesa merupakan bagian dari perjalanan perumusan tersebut. Oleh karena itu, setiap istilah yang digunakan di dalamnya perlu dipahami dalam hubungan dengan keseluruhan kerangka pemikiran Uttamopadesa, bukan semata-mata berdasarkan kemiripan istilah dengan sumber lain.
III. Arti Nama Uttamopadesa.
Nama Uttamopadesa digunakan untuk menggambarkan suatu gagasan mengenai tuntunan menuju keadaan yang lebih utama.
Unsur uttama dapat dipahami sebagai sesuatu yang utama, luhur, atau memiliki kualitas yang baik. Sementara upadesa dapat dimaknai sebagai tuntunan, wejangan, atau pengarahan menuju suatu pemahaman dan laku.
Namun demikian, pengertian Uttamopadesa tidak berhenti pada arti kedua unsur kata tersebut secara harfiah.
Dalam kerangka yang dikembangkan oleh Dhimas Purnomo, Uttamopadesa menjadi nama bagi keseluruhan pemikiran dan laku yang mengajak manusia memahami panguripan, mengenali jati dirinya, menjernihkan kehidupan batin, serta memperbaiki perilakunya.
Dengan demikian, Uttamopadesa bukan hanya berarti sebuah tuntunan mengenai sesuatu yang utama. Lebih jauh daripada itu, istilah tersebut menunjuk kepada proses manusia dalam memahami kehidupan dan membentuk dirinya agar mampu menjalani kehidupan dengan kesadaran yang semakin jernih.
IV. Uttamopadesa Tidak Sama dengan Paramopadesa.
Perbedaan ini perlu dijelaskan karena kemiripan bunyi kedua istilah dapat menyebabkan orang menganggap keduanya mempunyai asal-usul yang sama.
Dalam khazanah sastra dan filsafat Nusantara dikenal istilah paramopadesa, antara lain dalam sumber yang berkaitan dengan Ganapati Tattwa. Istilah tersebut mempunyai konteks historis dan pemikiran tersendiri.
Akan tetapi, dengan keberadaan istilah paramopadesa tidak berarti bahwa Uttamopadesa berasal dari istilah tersebut.
Uttamopadesa merupakan istilah yang dibuat dan dirumuskan oleh Dhimas Purnomo untuk menamai kerangka filsafat yang dikembangkannya melalui berbagai karya dan serat.
Kemiripan bunyi, bentuk, atau kemungkinan kedekatan arti tidak cukup untuk membuktikan bahwa dua istilah tersebut merupakan satu istilah yang sama.
Oleh sebab itu, pemahaman mengenai Uttamopadesa seharusnya merujuk kepada rumusan, konsep, dan karya-karya Uttamopadesa sendiri.
V. Landasan Pemikiran Uttamopadesa.
Filsafat Uttamopadesa berangkat dari pemahaman bahwa panguripan tidak muncul tanpa asal dan sumber keberadaan.
Dalam kerangka ini dikenal gagasan mengenai Sang Sumber Panguripan sebagai asal keberadaan dan Prabhawaning Panguripan sebagai pemahaman mengenai asal serta berlangsungnya kehidupan.
Dari persoalan tentang panguripan, pembahasan kemudian diarahkan kepada manusia.
Manusia perlu mempertanyakan siapa dirinya, apa jati dirinya, bagaimana ia memperoleh pengetahuan, serta bagaimana membedakan pemahaman yang jernih dari pemikiran yang masih dipengaruhi oleh kekeliruan.
Pertanyaan tersebut kemudian berkembang menjadi pembahasan tentang cara manusia mengendalikan dirinya dan menjalani kehidupan.
Dari sinilah muncul pembahasan mengenai Jati Diri, Kawruh Sejati, Kawruh Kasunyatan, cipta, rasa, karsa, kesadaran, dan laku hidup.
Alur pemikiran Uttamopadesa dengan demikian bergerak dari pemahaman mengenai panguripan, menuju pengenalan terhadap manusia, kemudian diteruskan kepada usaha membentuk dan menata diri.
VI. Kawruh Sejati dan Kawruh Kasunyatan.
Salah satu bagian penting dalam Uttamopadesa adalah pembedaan antara Kawruh Sejati dan Kawruh Kasunyatan.
Kawruh Sejati dipahami sebagai pemahaman yang bersumber dari hakikat panguripan dan berfungsi sebagai pepadhang bagi manusia dalam mengenali kenyataan.
Sementara itu, Kawruh Kasunyatan merupakan usaha manusia untuk mendekati pemahaman mengenai kenyataan melalui pengenalan, penghayatan, pengalaman, pengujian, serta laku kehidupan.
Kedua hal tersebut tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang bertentangan.
Kawruh Sejati menjadi pepadhang, sedangkan Kawruh Kasunyatan merupakan proses manusia dalam memahami dan menghayati kasunyatan melalui kehidupan yang dijalaninya.
Karena itu, kawruh dalam Uttamopadesa bukan sekadar kumpulan informasi atau pengetahuan yang disimpan dalam pikiran.
Sebuah kawruh baru mempunyai arti ketika memberikan pengaruh terhadap cara seseorang berpikir, merasakan, memilih, dan bertindak.
Jika pengetahuan tidak membawa perubahan terhadap kehidupan manusia, maka pengetahuan tersebut belum sepenuhnya menjadi bagian dari laku.
VII. Cipta, Rasa, lan Karsa.
Manusia dalam pemikiran Uttamopadesa memiliki tiga daya batin yang penting, yaitu cipta, rasa, dan karsa.
Cipta berkaitan dengan kemampuan manusia untuk berpikir, memahami sesuatu, mempertimbangkan keadaan, serta membentuk pandangan terhadap kehidupan.
Rasa berhubungan dengan kemampuan manusia dalam menghayati, merasakan, dan mengalami kehidupan secara batiniah.
Karsa merupakan kehendak yang mendorong manusia menentukan pilihan dan kemudian mengubah kehendak tersebut menjadi tindakan.
Ketiganya saling berhubungan.
Cipta yang tidak terjaga dapat melahirkan pemikiran yang keruh. Rasa yang tidak tertata dapat membuat manusia dikuasai oleh gejolak batin. Karsa yang tidak terkendali dapat mendorong seseorang melakukan tindakan yang tidak selaras dengan dirinya maupun lingkungan kehidupan.
Karena itu, manusia perlu belajar menjernihkan cipta, membersihkan rasa, dan menata karsa. Ketiganya menjadi bagian penting dalam proses pembentukan manusia menurut Uttamopadesa.
VIII. Uttamopadesa sebagai Laku Kehidupan.
Uttamopadesa tidak dimaksudkan hanya sebagai bahan untuk membicarakan filsafat.
Nilai sebuah kawruh dapat diketahui dari pengaruhnya terhadap kehidupan orang yang memahaminya.
Jika seseorang mengetahui pentingnya kejernihan cipta, maka ia perlu berusaha menjaga pikirannya.
Jika memahami pentingnya kebersihan rasa, ia perlu belajar mengenali dan mengendalikan gejolak batinnya.
Jika menyadari pentingnya karsa, ia harus bertanggung jawab atas kehendak dan perbuatannya.
Karena itu, Uttamopadesa mempunyai sisi praktis yang kuat.
Kawruh perlu dihayati.
Penghayatan perlu diwujudkan menjadi laku.
Laku perlu menghasilkan perubahan dalam diri.
Tujuan akhirnya bukan menciptakan manusia yang merasa paling mengetahui, melainkan manusia yang semakin mampu memahami kehidupan, mengenali dirinya, mengendalikan diri, dan menjalani kehidupan dengan lebih selaras.
IX. Kedudukan Serat-Serat Uttamopadesa.
Pemikiran Uttamopadesa kemudian diperluas melalui berbagai serat dan konsep yang membahas bagian-bagian tertentu dari kerangka utamanya.
Di antaranya terdapat Nawa Pranataning Kawruh Sejati, Nawa Prabodha, Nawa Samadhi, Nawa Brata Wisesa, Nawa Tridaya, Nawa Pambening, serta berbagai rumusan lainnya.
Masing-masing karya tidak harus dianggap sebagai sistem yang terpisah.
Serat-serat tersebut dapat dipahami sebagai bagian yang saling melengkapi dalam menjelaskan satu kerangka pemikiran yang lebih luas.
Ada karya yang menguraikan prinsip-prinsip kawruh.
Ada yang membahas perkembangan kesadaran.
Ada yang menguraikan perjalanan batin.
Ada pula yang menitikberatkan pada pembentukan watak serta hubungan antara cipta, rasa, dan karsa.
Keseluruhan pemikiran tersebut diarahkan kepada tujuan yang sama, yaitu membantu manusia memahami panguripan dan membentuk dirinya melalui laku yang dilakukan secara sadar.
X. Uttamopadesa dalam Kehidupan Manusia.
Uttamopadesa tidak mengukur kesempurnaan manusia hanya berdasarkan banyaknya pengetahuan yang dimiliki.
Seseorang dapat membaca banyak buku, mengenal berbagai gagasan, dan mempunyai pengetahuan yang luas. Namun, banyaknya pengetahuan belum tentu membuat kehidupan batinnya menjadi lebih wening.
Karena itu, ukuran penting dalam Uttamopadesa bukan sekadar seberapa luas pengetahuan seseorang, tetapi seberapa besar pengetahuan tersebut memengaruhi dirinya.
Apabila kawruh membuat cipta semakin jernih, rasa semakin bersih, karsa semakin tertata, dan perilaku semakin baik, berarti kawruh tersebut telah menemukan tempatnya dalam kehidupan.
Di sinilah hubungan antara kawruh dan laku menjadi sangat penting.
Pengetahuan tidak cukup hanya dipahami.
Pengetahuan perlu dihayati.
Pengetahuan yang telah dihayati perlu diwujudkan melalui kehidupan.
XI. Uttamopadesa sebagai Rumusan Pemikiran.
Uttamopadesa perlu ditempatkan sesuai dengan kedudukannya yang sebenarnya.
Ia bukan hasil menemukan kembali sebuah naskah kuno lalu memberikan nama baru kepadanya.
Ia juga bukan pernyataan bahwa suatu istilah kuno diwariskan secara langsung dari masa lampau hingga sekarang.
Uttamopadesa merupakan rumusan pemikiran yang dibuat dan dikembangkan oleh Dhimas Purnomo sebagai manifestasi kawruh kasunyatan sejati.
Karya-karya yang menggunakan nama Uttamopadesa menjadi sarana untuk memperluas, memperjelas, dan menyusun pemikiran tersebut ke dalam berbagai bidang pembahasan.
Sebagai suatu kerangka pemikiran, Uttamopadesa masih dapat mengalami pendalaman dan pengembangan. Konsep-konsepnya dapat terus diperjelas, dikaji, dan ditata selama hubungan antara satu gagasan dengan gagasan lainnya tetap terjaga.
Keterbukaan tersebut justru memungkinkan Uttamopadesa dipelajari sebagai kerangka filsafat yang mendorong manusia untuk berpikir, menghayati, dan menjalani kehidupan secara sadar, bukan sebagai kumpulan dogma yang tidak boleh dipertanyakan.
Panutup.
Uttamopadesa merupakan nama bagi suatu kerangka filsafat kawruh yang dibuat dan dirumuskan oleh Dhimas Purnomo sebagai manifestasi kawruh kasunyatan sejati.
Kerangka tersebut membahas sumber panguripan, jati diri, Kawruh Sejati, Kawruh Kasunyatan, kesadaran batin, serta proses pembentukan manusia melalui laku.
Pengertiannya tidak ditentukan oleh kemiripan nama dengan istilah lain yang terdapat dalam sejarah sastra Nusantara.
Uttamopadesa harus dipahami berdasarkan gagasan, rumusan, dan karya-karya yang membangun kerangka pemikiran itu sendiri.
Karena itu, Uttamopadesa bukan Paramopadesa dan bukan pula klaim terhadap suatu ajaran kuno dari masa Majapahit. Ia merupakan hasil penyusunan pemikiran pada masa kini mengenai kehidupan, manusia, dan proses pembentukan diri.
Pokok pemikirannya terletak pada hubungan antara kawruh dan laku: memahami panguripan, mengenali jati diri, menjernihkan cipta, membersihkan rasa, menata karsa, dan membangun perilaku yang semakin selaras.
Pada akhirnya, Uttamopadesa tidak berhenti pada usaha mengetahui apa yang utama.
Yang lebih penting adalah bagaimana manusia mampu menjadikan pemahaman tersebut sebagai dasar dalam menjalani kehidupan secara utama.
FAQ — Pertanyaan tentang Uttamopadesa.
1. Apa yang dimaksud dengan Uttamopadesa?
Uttamopadesa adalah kerangka filsafat kawruh yang membahas panguripan, jati diri, Kawruh Sejati, Kawruh Kasunyatan, kesadaran batin, dan laku pembentukan manusia. Istilah ini dibuat dan dirumuskan oleh Dhimas Purnomo sebagai manifestasi kawruh kasunyatan sejati.
2. Siapa yang membuat Uttamopadesa?
Uttamopadesa dibuat dan dirumuskan oleh Dhimas Purnomo. Pemikirannya kemudian dikembangkan melalui berbagai tulisan, kajian, konsep, dan berbagai serat yang saling berkaitan.
3. Apakah Uttamopadesa merupakan ajaran kuno?
Bukan. Uttamopadesa bukan nama ajaran kuno yang ditemukan dalam naskah Majapahit, lontar, atau kitab tertentu. Istilah dan kerangka pemikirannya dibuat serta dikembangkan oleh Dhimas Purnomo pada masa kini.
4. Apakah Uttamopadesa berasal dari masa Majapahit?
Tidak ada dasar dalam kerangka Uttamopadesa untuk menyatakan bahwa istilah tersebut berasal dari Majapahit. Kemiripan dengan istilah dalam sastra Nusantara tidak otomatis menunjukkan hubungan asal-usul.
5. Apakah Uttamopadesa sama dengan Paramopadesa?
Tidak. Keduanya merupakan istilah yang berbeda. Paramopadesa dikenal dalam sumber tertentu dalam khazanah sastra dan filsafat Nusantara, sedangkan Uttamopadesa merupakan istilah yang dibuat dan dirumuskan oleh Dhimas Purnomo.
6. Apakah Uttamopadesa merupakan agama?
Uttamopadesa tidak dirumuskan sebagai agama. Ia merupakan kerangka filsafat kawruh dan laku kehidupan yang menekankan pemahaman terhadap kehidupan serta pembentukan diri melalui kejernihan cipta, kebersihan rasa, dan keteraturan karsa.
7. Apa tujuan Uttamopadesa?
Tujuannya adalah membantu manusia memahami panguripan dan dirinya sendiri, kemudian menerapkan pemahaman tersebut dalam kehidupan melalui laku yang sadar, tertata, dan selaras.
8. Apa kaitan Uttamopadesa dengan Kawruh Sejati?
Kawruh Sejati merupakan salah satu bagian penting dalam pemikiran Uttamopadesa. Kawruh Sejati dipahami sebagai pepadhang yang membantu manusia mengenali hakikat panguripan dan kenyataan.
9. Bagaimana hubungan Uttamopadesa dengan Kawruh Kasunyatan?
Kawruh Kasunyatan merupakan usaha manusia untuk memahami kenyataan melalui proses mengenali, menghayati, mengalami, dan menjalani kehidupan. Dalam kerangka Uttamopadesa, Kawruh Sejati menjadi pepadhang bagi proses tersebut.
10. Mengapa Cipta, Rasa, dan Karsa penting?
Cipta, rasa, dan karsa merupakan daya penting dalam kehidupan batin manusia. Ketiganya perlu dijaga dan ditata agar pikiran menjadi jernih, rasa menjadi bersih, kehendak menjadi terarah, serta tindakan menjadi lebih selaras.
11. Apa saja karya yang berkaitan dengan Uttamopadesa?
Pemikiran Uttamopadesa dikembangkan melalui berbagai serat dan kajian, antara lain Nawa Pranataning Kawruh Sejati, Nawa Prabodha, Nawa Samadhi, Nawa Brata Wisesa, Nawa Pambening, serta berbagai kajian mengenai Kawruh Sejati, Kawruh Kasunyatan, Cipta-Rasa-Karsa, dan laku hidup.
12. Apakah Uttamopadesa masih dapat dikembangkan?
Ya. Sebagai suatu kerangka pemikiran, Uttamopadesa masih dapat diperjelas, diperdalam, dan dikembangkan. Pengembangan tersebut tetap perlu menjaga prinsip dasar serta keterkaitan antarkonsep yang telah dibangun.
13. Apakah Uttamopadesa mengajarkan kekuatan gaib?
Tidak. Fokus Uttamopadesa adalah pembentukan manusia dan pengolahan diri. Yang ditekankan adalah kejernihan cipta, kebersihan rasa, keteraturan karsa, serta perubahan perilaku. Tujuannya bukan memperoleh kekuatan gaib.
14. Apa inti filsafat Uttamopadesa?
Inti Uttamopadesa berada pada hubungan antara kawruh dan laku. Manusia tidak cukup hanya mengetahui sesuatu. Pengetahuan perlu dihayati dan diwujudkan dalam kehidupan melalui pengenalan diri, penjernihan cipta, pembersihan rasa, penataan karsa, dan perbaikan perilaku.

